Monday, March 17, 2008

>Grup Sangatta

“Hei, Gen mau kemana?” suara itu tiba-tiba mengagetkanku ketika aku berjalan menuju kedai Roti Boy di bandara Sepinggan, Balikpapan. Ternyata Bosman, kawan kuliahku yang kerja di KPC. “Aku mau ke Tarakan, neh,” jawabku, “nah kamu mau kemana?” Aku baru ingat bahwa kawanku ini sudah habis masa kontrak kerjanya dengan KPC (satu tahun). Dia tak berminat melanjutkan kontraknya, padahal pihak KPC masih berminat dan kabarnya tertarik untuk menjadikannya karyawan tetap. Memang sudah lama ia ingin cepat-cepat hengkang dari Sangatta. Ia jenuh dengan pekerjaannya. Pantas saja wajahnya terlihat sumringah, seperti ada beban yang terlepas. “Aku mau ke Jogja. Jam 09.15 pesawatku terbang. Sampai ketemu, Gen,” kata Bosman. Kupandangi ia berjalan sembari mendorong trolly berisi beberapa tas. Kawan yang kukenal multi talenta ini yang menyukai banyak hal: berpuisi, menulis, membaca beraneka tema, berdiskusi berbagai topik, dan hal-hal lain yang berdekatan dengan aktifitas intelek.

Ada tiga kawan kuliahku yang bekerja di Sangatta. Dua yang lainnya adalah Gombrenk yang bekerja di KPC dan Fauzi yang bekerja di THIESS. Fauzi bulan ini juga hengkang dari Sangatta karena mendapat pekerjaan baru yang lebih menjanjikan baginya di Jambi. Fauzi sudah dua tahun bekerja di THIESS dan ditempatkan di Sangatta. Gombrenk juga akan hengkang dari KPC setelah kontrak kerjanya satu tahun habis di bulan September 2008. Selanjutnya ia ingin sekolah lagi dengan biaya sendiri dari hasil kerjanya setahun di KPC. Aku sendiri bakal lama bertugas di Sebakis dan Bebatu, setidaknya menghabiskan sisa kontrak kerjaku yang masih satu tahun lagi. Setelah itu aku akan mengejar cita-cita yang lain. Dengan begini grup Sangatta bubar dech.....


Medio Maret,


menuju perbatasan dan keterasingan

>Dua Utang

Bulan ini dua utangku sudah lunas kubayar. Sudah berbulan-bulan aku memikirkan bagaiman cara membayarnya. Utang pertamaku sama Bli Andi. Sudah tiga bulan hasil wawancara dengannya mengendap di folder laptopku, sejak awal Desember 2007 sampai akhir Februari 2008. Aku tertarik untuk mengangkat profilnya untuk majalah “Media Hindu”. Sudah lama aku ingin menulis feature yang mengangkat kehidupan seseorang. Orang ini menurutku sangat menarik. Profilnya bisa dilihat di http://madeandi.staff.ugm.ac.id/blog. Aku sangat terkesan dengan acara K!ick Andy yang tayang di MetroTV. Acara yang mengangkat perjuangan hidup seseorang yang pantang menyerah pada keadaan. Lagian sudah lama aku tak menulis di “MH”. Kasihan melihat Pak Ngakan berjuang tanpa ada tim yang solid.

Desain wawancara dengan Bli Andi sudah selesai November 2007. Kala itu ia sedang di markas PBB di New York. Ada tiga pertanyaan utama yang aku ajukan: soal keluarga, karir dan pekerjaan, dan soal spiritualitas. Di luar dugaanku ternyata dia tak perlu waktu lama menjawab pertanyaanku. Awal Desember sudah jadi. Wawancara itu ada 35.000 karakter. Aku harus meringkasnya menjadi maksimal 9.000 karakter (tanpa spasi) agar bisa dimuat menjadi dua halaman. Ketika akhir Januari lalu aku sempat singgah ke Jogja dari dinas di Jakarta, sebenarnya aku ingin menginggahi rumahnya dan bertemu dengan anak dan istrinya. Ini penting agar tulisanku lebih hidup. Aku ingin lebih detil mengorek informasi agar tulisanku tidak bias. Tapi ternyata Bli Andi sedang berada di Jakarta. Tapi toh tanpa itu tulisanku kelar juga. Sebelum kukirim ke Pak Ngakan, kukirimi Bli Andi agar mengoreksinya. Kata Bli andi via e-mail, “Cuma koreksi sangat minor.” Setelah kubenahi kukirim sekali lagi ke Bli Andi. Katanya tak ada masalah. Pak Ngakan pun senang. Tulisanku itu bakal dimuat “MH” edisi April atau Mei ini. Sebuah pekerjaan panjang dan dengan sangat rela aku tak dibayar sepeserpun.

Utang keduaku adalah menulis untuk “Bunga Rampai 25 Tahun KMHD UGM”. Aku menulis tentang peran “Suara Anandam” media yang pernah menjadi aktualisasi proses kreatifku. Ogah-ogahan aku menulis. Padahal aku sudah ngumpulin banyak bahan dari internet. Eh..akhirnya kelar juga meski lewat dua hari dari tenggat waktu 15 Maret 2008. Sebenarnya gagasan pembuatan buku untuk memperingati 25 tahun KMHD UGM adalah ideku yang kuutarakan pada Krya Sabha (rapat kerja) KMHD April 2006. Aku sudah melakukan provokasi agar banyak orang yang terlibat. Tapi nyatanya baru delapan tulisan yang masuk (termasuk karyaku). Semoga saja yang lain menyusul biar “Bunga rampai” bisa terbit. Janji adalah utang bagiku. Dan itu sudah kubayar LUNAS!

Ini dia nukilan untuk membayar dua utangku itu:
I Made Andi Arsana
Terbang Bersayap Doa



“Saya berhutang budi kepada orangtua, saudara kandung, mertua, dan ipar yang menggantikan banyak sekali peran saya ketika saya berada jauh dari tanahair. Tanpa mereka, saya tidak bisa melakukan banyak hal untuk memenuhi mimpi-mimpi saya,” ungkap I Made Andi Arsana (30) tentang kunci suksesnya sebagai dosen dan peneliti.

Dilahirkan dalam keluarga sederhana di Desa Tegaljadi, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali, membuat Andi, sapaan akrabnya, tak menyangka bisa menjadi pengelana intelektual. “Bapak saya tidak sempat menamatkan pendidikan dasar. Sedangkan ibu lumayan, bisa lulus SD. Secara ekonomi, kami tidak lebih baik dari orang-orang di desa zaman itu. Bapak dan ibu saya petani sekaligus penambang batupadas. Dengan itulah kami hidup di awal tahun 80-an,” terang Andi mengisahkan masa kecilnya.

Seperti kebanyakan anak desa, arena bermainnya adalah sawah. Ia juga memilihara itik dan babi. “Saya pernah punya satu burung tekukur, tupai, anjing, kucing, dan burung emprit di saat yang sama dan kesemuanya bebas berkeliaran di rumah,” papar Andi. Dalam manajemen kasih sayang ala Andi, mereka hidup rukun. “Ada pelajaran tentang cinta dan persahabatan di sana,” kenangnya.

Nilai-nilai hidup yang ditanamkan orangtuanya memberi pengaruh yang mendalam bagi perjalanan hidup Andi. Menjadi anak yang rajin, menyapa orang dengan ramah, minta maaf ketika melakukan kesalahan adalah beberapa hal yang selalu ditanamkan kepada Andi kecil. Dari sang ibu Andi belajar tentang perjuangan dan kemandirian. Sedangkan dari sang bapak ia belajar tentang kepemimpinan dan komunikasi. Dan, itulah yang mengantarkannya meraih beasiswa Australian Leadership Awards untuk program doktoral di University of Wollongong, Australia, tahun ini.
Dan seterusnya.......
Memutar Roda Dharma dengan Aksara
Catatan Eksistensi “Suara Anandam”

There are only two things that can be lightening the world. The sun light in the sky and the press in the earth (Mark Twain).

Boleh jadi semangat seorang novelis, penulis, dan pengajar berkebangsaan Amerika Serikat yang hidup seabad lampau seperti itulah yang menginspirasi John Wood untuk mendirikan 3600 perpustakaan di Asia. Untuk itu ia rela menanggalkan bajunya sebagai eksekutif muda Microsoft dan memilih jalan baru hidupnya sebagai pegiat budaya literasi. Ia mendirikan perpustakaan pertamanya di bekas kerajaan Hindu satu-satunya di dunia, Nepal.
Dan seterusnya.......

Hot spot di Taman Oval Ladang, Tarakan

Saturday, March 15, 2008

>Nyepi dan Pemanasan Global




Nyepi tahun ini nggak bisa aku rayakan lengkap seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku rayakan Nyepi tanpa Melasti dan Tawur Agung.Statusku sebagai pekerja di wilayah tambang membuatku sangat terbatas dalam hal transportasi. Padahal pantai untuk upacara Melasti lokasinya dekat dari kantorku. Tapi apa boleh buat, tidak ada mobil yang bisa aku pakai. Lagipula Melasti di Sangatta digelar pada hari dan jam kerja, sehari sebelum Nyepi tahun Saka 1930.

Aku memilih melakukan Brata Penyepian di Pura Bontang. Untuk itu aku harus menempuh satu perjalanan pakai kendaraan umum. Ongkosnya Rp 25.000,00. Lalu disambung naik angkot. Ongkosnya Rp 3.000,00. Ketika menginjak halaman pura gerimis menyambutku. Upacara pengrupukan baru saja usai.

Aku merasa nyaman Nyepi di sana.Umat di Bontang menyambutku dengan ramah. Lokasi pura yang terpencil dan dikelilingi beberapa rumah umat menambah suasana. Hanya belasan orang yang merayakan Nyepi di pura. Kuisi brata penyepianku dengan membaca novel “Gajah Mada Hamukti Palapa” dan sebuah buku terbitan Media Hindu. Upawasa sukses aku laksanakan 24 jam. Tapi aku merasa Nyepi kalli ini aq nggak bisa nyepi dalam arti sesungguhnya. Karena pikiranku sibuk menimang, menghitung, dan memikirkan arah hidupku.

Di tempat lain, di kampung halamanku di Bali, tak ada kendaraan dan manusia yang lalu lalang di tempat umum. Semuanya harus berada di dalam rumah. Baik yang Hindu maupun non-Hindu. Tapi aku nggak yakin umat Hindu di sana melakukan Brata Penyepian, terutama upawasa!

Kabarnya selama satu hari satu malam tanpa aktifitas telah terjadi penurunan emisi cukup drastis di Bali Dalam konferensi perubahan iklim global lalu Nyepi diusulkan untuk diperingati masyarakat dunia. Aku lalu membuka kembali majalah Gatra edisi khusus “Pemanasan Global”. Entahlah bagaimana kelanjutan usul ini aku belum tahu. Sudah sepatutnyalah kita melakukan upaya untuk mengurangi pemanasan global agar bencana mengerikan yang mengancam kehidupan dapat dihindari. Meski, secara konsep Geologi, bumi dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan iklim. Antara glasiasi dan interglasiasi. Zaman es (Pleistosen) berakhir 11.000 tahun yang lalu. Sekarang kita berada dalam masa interglasiasi. Entah apa bumi bisa mengalami glasiasi lagi di masa mendatang?

Nyepi tahun ini meninggalkan kenangan yang mahal buatku. Mataku terkena iritasi berat! Bola mataku berwarna merah dan banyak kotoran yang keluar dari sudut mataku. Mungkin ini akibat kebanyakan tidur, ya? Atau karena aku memaksa membaca di tempat gelap? Sakit mata itu membuatku tak masuk kerja satu hari. Setelah mengikuti resep dokter, mataku harus diberi obat tetes setiap enam jam dan minum antibiotik sehari tiga kali, lima hari kemudian mataku kembali normal.


Hot Spot di Taman Oval Ladang,
Tarakan

Sunday, February 24, 2008

>5R dan SMK3





Baru-baru ini orang-orang di kantorku sedang giat-giatnya menerapkan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin). 5R mengadopsi 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) dari bangsa Jepang yang telah sukses menjadi raksasa ekonomi, sain dan teknologi. Semua orang terlibat dan saling bekerjasama untuk mewujudkan 5R. Misalnya, membersihkan area kantor dari sampah, memangkas tanaman agar rapi, dan membenahi tempat sampah yang rusak. Di ruang kerjaku yang sempit, berukuran 3x3 m dan ditempati empat orang, aku dapat giliran piket tiap Selasa dan Jumat. Hal ini berimbas pula pada kamar kosku. Sekarang jadi lebih rapih dan rajin kubersihkan. Tapi sayang tak ada cewek yang menyambangi kamarku. JOmblo dech…… Tapi imbas itu hanya sesaat terjadi di kamarku. Lama-kelamaan kembali ke asal. Dasar gw memang nggak bisa rapi.....

Pada 19-21 Februari lalu kantorku mengadakan pelatihan internal SMK3. Ini bukan nama sekolah kejuruan lho. Bersama 19 karyawan Sucofindo lainnya aku mengikuti pelatihan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Trainernya dari kantor pusat. Dua hari kami diberi wawasan teori dan studi kasus. Pada hari ketiga kami praktik menjadi auditor SMK3. Bersama timku yang berjumlah tiga orang, kami melakukan audit di ruang marine surveyor. Tugas kami memeriksa apakah SMK3 sudah diterapkan atau belum. Untungnya kami dibekali checklist yang sangat membantu kami sebagai pemula. Layaknya petugas investigasi, selain melihat kelengkapan dokumen dan observasi lapangan kami juga mewawancarai personal di ruangan itu. Kayak polisi mengusut perkara aja. Sungguh pengalaman yang menarik.

Pelatihan itu diawali dengan pretest dan diakhiri dengan posttest. Pertanyaannya sama persis, tapi hasilnya berbeda. Nilai pretestku 35 sedangkan nilai postesku 90. Setelah dirata-rata dengan nilai tugas maka nilaiku menjadi 68,75. Hasil yang tak mengecewakan melihat nilai tertinggi adalah 72.

Sunday, February 17, 2008

>Literasi dan Berani Mimpi


Kisah insipratif yang dituturkan John Wood, mantan eksekutif Microsoft yang kemudian banting setir menjadi pegiat buadaya literasi untuk anak-anak di Asia, sungguh membuatku merinding dan berkaca-kaca. Aku merasakan gejolak batin yang begitu mendalam ketika John Wood memutuskan hendak meninggalkan kariernya yang gilang-gemilang itu. Ia mencoba menjawab pertanyaannya sendiri: siapakah sebenarnya yang lebih membutuhkan kehadirannya, Microsoft ataukah anak-anak Nepal? Ketika ia meninggalkan jabatannya di Microsoft, pastilah segera saja ada orang yang menggantikannya dan segera melupakan dirinya. Namun, sebaliknya bila ia tak hadir di Nepal siapakah yang akan menggantikannya? Tak seorangpun! Di situlah ia menemukan lentera untuk melangkahi kehidupan yang lebih manusiawi.

Usai kubaca buku karya John Wood berjudul “Leaving Microsoft to Change the World” kukunjungi situsnya di
www.roomtoread.org. Buku sungguh punya daya magis luar biasa untuk mengajak pikiran berkelanan ke dunia antah berantah, mengembangnakan daya imajinasi dan kreatifitas. Aku membanyangkan anak-anak itu menjadi manusia-manusia yang cerdas dan menjadikan dunia lebih baik di masa depan. Thank you very much John. You are the hero for the children in developing country who need books and schools!God bless you.

Kekuatan berani bermimpi yang dikisahkan Andrea Hirata dalam “Laskar Pelangi” sungguh dahsyat. Bangsa kita membutuhkan orang-orang yang berani mimpi dan konsisten mewujudkan mimpi itu. Tanpa mengeluh dan terus berjuang meski dalam keterbatasan. Sejujurnya “Laskar Pelangi” telah menampar kepicikan dan ketakutanku dalam menyelami kehidupanku sekarang ini. “Sang Pemimpi” juga tak kalah serunya. “Edensor” menemaniku dalam perjalanan ke Jakarta bulan lalu. Kunantikan “Maryamah Karpov” untuk menggenapinya.

Tuesday, February 12, 2008

>Kenangan di Asrama Bali "Saraswati" Yogyakarta

Ada yang berubah dari Asrama Bali Saraswati. Info ini ditiupkan Giri Mapala kepadaku. Apanya seh yang berubah? Giri mendeskripsikan dengan detil perubahan itu. Lalu ketika di pura berjumpa dgn Wahyu-Jayapangus, yang pernah tinggal di asrama itu bersamaku, dia pun bercerita hal yg serupa. Semakin menambah aroma penasaranku….

Dan benar saja, setelah bertahun-tahun tak melancong ke asrama Bali ternyata asrama bersejarah itu telah berubah menjadi bangunan yang semakin megah dan mewah. Pun bangunan puranya. Ntah berapa rupiah telah dihabiskan untuk menyulapnya. Kabarnya bermilyaran rupiah. Kalah dech pura banguntapan.Tak ada yg tersisa dari bangunan lama. Sebuah kamar paling ujung, dekat kamar mandi, nan kumuh tempatku pernah merebahkan diri di sana selama empat bulan sudah tak berbekas. Ketika tahun ajaran baru biasanya asrama Bali banyak dipakai rujukan calon mahasiswa dari Bali, lebih tepatnya yg mengaku berdarah Bali. Meski ia berasal dari lampung, sulawesi, lombok, maupun jawa.

Momen yg paling dinanti oleh penghuni asrama bali yg jumlhnya belasan itu adalah hari minggu ketika latihan tari digelar. Bukan kami tertarik ama tariannya. Tp lbh tertarik siapa yg menari hehehe.....maka dgn berbagai dandanan dan pasang tampang penghuni asrama bali telah siap sedia menggelar tampangnya di teras depan. Sapa tahu ada yg nyangkut......

Selama empat bulan tinggal di sana, byk dongeng tak mengenakkan dari mereka ttg kmhd ugm. Sbg penghuni yg satu2nya kul d ugm, tentu saja aku melakukan perlawanan dgn memuntabkan berbagai dalil dan beretorika........sbg mhs aku tak melihat aktivitas mrk belajar. Lbh sering nggamel dan ngegame....blm lg tabiat mereka yg nggak santun dan susah diberi tahu.tp tak semua sperti itu. Aku punya pengalaman yg tak mengenakkan ketika berurusan dg salah satu dari mereka. Aku ditempeleng!!! Kacian dech...aku korban kekerasan dalam rumah tangga......

Waktu itu sbg org yg ditugaskan menjaga kebersihan dan ketertiban aku berusaha menjalan tugas itu sebaik-baiknya. Ada salah seorang kawan (meski dia nggak tinggal di asrama tp hampir saban hari dia ke asrama) yg masuk asrama masih pake sepatu. Padahal di pintu masuk jelas2 tertera tulisan “Alas kaki mohon dilepas”. Lalu aku laporkan kepada ketua asrama bali saat itu. Lalu sang ketua memepringatkannya. Tp ternya kawan itu nggak terima dan tiba2 saja dia sudah berdiri di pintu kamarku dg pose berkacak pinggang. Dia menyalak-nyalak bak anjing, tak terima diperingatkan. Sekurus kemudian, “Plok!!!” satu tamparan dengna sukses menodai ketampanan wajahku. Dan kacamataku terlepas dari daun telingaku, jatuh beberapa langkah di depanku, untung aja nggak pecah. Aku terkejut luar biasa. Lalu iapun hendak memberiku jurus kedua. Untung saja ada kawan lain yg melerainya. Tentu ia geram dan terus memaki-makiku. Entahlah, tak ada rasa sakit pada diri dan jiwaku. Tamparan itu tak terasa sbg sebuah kesakitan. Yg kurasakan adalah sapaan hangat dr seorang kawan. Aneh pula, sama sekali aku tak melakungan dan nggak ingin melakukan perlawanan. Agaknya sihir Ahimsa Mbah Gandhi bekerja padaku. akal sehatku msh kupakai kala itu. Badanku kecil tak sebanding dengan tubuhnya yg tinggi, kira2 180cm. Drpada jd keripik goreng, lbh baik aku mengalah. Aku hanya mengucapkan kalimat ini padanya, “Percuma kamu jauh2 dr Bali kalo cara berpikir dan tindakanmu cekak kayak gini. Apalagi kamu dari SMU favorit di Bali.”
Tak berapa lama setelah kawan ini pergi, dtg lg seorang kawan lainnya yg tiba2 mendatangiku di kamar. Dia ini hendak membela kawan sepermainannya tadi. Kawan ini jg nggak kalah gede. Apa daya tubuhku yg kecil ini. Aku cm punya dua ilmu memeprtahankan diri: ilmu pelet dan ilmu kuda ngacir. Pelet maksudku menjulurkan lidah alias melet hehehe...dua2nya msh kusimpan dgn baik, blm aku gunakan.

Lagi2 aku hendak diberi pelajaran, untung dilerai ma tmn2 seasrama. Lepas kejadian itu aku nggak habis pikir kenapa org2 macam gini ada di Jogja? Mo kuliah apa jd preman?
Esoknya ada kejadian yg nggak hbs kupikir. Kedua kawan tadi datang ke asrama. Mereka menyalami dan meminta maaf pada semua warga asrama bali, kecuali aku. Entahlah.......mungkin mereka malu, tengsin atau masih dendam.....besoknya aku hengkang dari asrama bali, menghindari kemungkinan buruk.

Asrama Bali Saraswati boleh megah dan mewah, tapi yang tak kalah pentingnya adalah manusia-manusia yang tinggal di dalamnya harus santun. Asrama Bali telah menjadi saksi bisu atas gelihat mahasiswa Bali (Hindu) di Yogyakarta. Jangan Cuma kelakuan segelintir orang itu, citranya jadi ternoda.

Cheers,
Warga Kota “Koboi” Sangatta

Thursday, February 7, 2008

>jkt-smg-yk-smd

Sebenarnya aku ingin bikin kejutan buat kekasihku. Aku ingin tiba-tiba berdiri di ambang pintu rumahnya dan menelponnya seperti adegan romantis di film-film ataupun sinetron-sinetron percintaan anak muda. Tapi mengingat kereta tiba di Semarang dini hari, dan aku tak ingin merepotkan banyak orang, jadilah kutelpon kekasihku itu. Dan ia terkejut girang……

Sewaktu mahasiswa aku paling sering naik kereta kelas ekonomi murah meriah kayak pasar rakyat, sangat jarang naik kelas bisnis. Maklum kantong cekak. Naik kereta eksekutif baru sekali. Itupun fasilitas dari Pertamina Geothermal, tempatku kerja praktik, dari Jakarta ke Bandung hampir tiga tahun lalu. Baru sekali ini naik kereta eksekutif pake uang sendiri. “Yah, menikmati hasil kerja boleh donk,” pikirku. Aku baru sadar kalo aku belum makan. Pantas saja perutku mual, kepalaku pusing sedari tadi. Jam 22.30, Bung!!! Service snack tak mampu mengganjal perutku. Tak sabar aku menunggu pelayan mendatangiku menawari menu makan. Langsung saja aku menuju pantry memesan nasi goreng. Tak seberapa lama pesananku datang. Langsung saja makan dengan lahap bak korban banjir yang kelaparan. Capek dech......

Tiba di Semarang jam 04.00. Naik taksi argo kena Rp. 15.000,00 kuberi si sopir Rp. 20.000,00 tanpa kembalian. Ah......baru sebulan lalu aku menginjakkan rumah ini dalam acara “pertemuan dua keluarga besar”. Sengaja kusempatkan mendatangi rumah ini lagi karena ada hal mendesak yang ingin kuutarakan pada calon mertuaku ini......

Sabtu sore aku berangkat ke Jogja, sendirian. Pengennya seh mo naik bus wisata JOGLOSEMAR, tapi berhubung waktu yang mendesak aku memilih naik bus patas jam 15.00. Jam 18.30 bus tiba di Jombor. Wima, adik pacarku, udah menantiku. Trus kuminta dia mengantarku beli tiket pesawat untuk esok pagi. Ternyata maskapai penerbangan yang aku cari sudah penuh, bahkan untuk beberapa hari ke depan. Terpaksa naik yang lain. Dapat! Penerbangan sore.

Tak banyak yang bisa aku lakukan di Jogja. Rencananya mo ketemu B’Andi ngomongin buku bunga rampai dan profilnya yang hendak aku tulis buat MH. Giri, sahabatku, lagi pulang kampung. Aku habiskan malan dengan mengukur jalanan Jogja sembari memutar pendulum waktu semasih kuliah....Ah..kota yang sangat berkesan dan sangat memengaruhi diriku. Segala macam aroma kehidupan pernah aku cicipi di tempat ini.

Aku tidur di Ashram Gandhi, tempat yang luar biasa bagiku. Tak semua orang mendapat kesemppatan bisa menjalani kehidupan di ashram. Meskipun itu bukan ashram yang ideal. Sejatinya kurindukan keakraban seperti dulu. Bangun pagi2 untuk beraghnihotra, lalu mengucapkan Gandhian Though dan diskusi perihal berbagi hal. Memasak menu vegetarian. Merancang berbagai kegiatan. Ah…….sungguh pengalaman yang tak ternilai.

Minggu pagi kunikmati keramaian di boulevard UGM. Ah, lagi2 ini memberi kesan mendalam pada masa kuliahku “yang berkelana ke sana ke mari”. Aku janjian ketemu dengan juniorku di Suara Anandam, Rian. Dia baru saja tiba setelah pulang kota di Jakarta. Ngobrol berbagai hal. Usai itu aku ke daerah Malioboro, berburu oleh2 bakpia.

Dalam perjalanan ke bandara aku mengajak Wima makan siang di warung vegetarian “Soma Yoga” di Babarsari. Wima baru pertama kalinya. Suka sekali aku dengan cita rasanya. Meski sudah tak vegetarian lagi tapi aku masih menyimpan keinginan untuk kembali lagi jadi vegetarian kelak.

Tiba di Balikpapan matahari sudah tersapu. Berdua dengan seornag bapak yang kukenal di bandara, kami menaiki taksi ke Samarinda. Aku numpang nginap di kamar Memed, kawanku yang sangat baik, semangat juangnya tinggi. Esoknya aku ke kantor cabang. Empat hari aku di Samarinda. Kamar Memed bersebelahan dengan kos2an cewek di sekitar kampus Universitas Mulawarman (Unmul). Hmmmm….suasana kampus betul2 terasa. Di Samarinda kuselesaikan membaca “Edensor” yang telah menemani perjalananku.