Monday, June 11, 2007

>hari raya

suluh interfaith magazine. entah edisi kapan















MERAYAKAN HARI RAYA, YA BERBELANJA!

“Lebaran itu kan nggak mesti pake baju baru. Yang penting kan hatinya,” ucap salah seorang presenter sebuah televisi swasta. Ya, sudah menjadi sebuah tradisi tak terlulis penduduk negeri ini kalau merayakan hari raya tanpa pakaian baru itu kurang sreg. Pada masa-masa menjelang hari raya, terutama pada bulan Ramadhan, terjadi sebuah stimulus konsumsi yang luar biasa. Kalau menengok sejenak ke pusat-pusat perbelajaan, taruhlah supermarket, mal, ataupun departement store, deretan spanduk ataupun promosi, yang menawarkan diskon harga sebuah produk, mengundang selera pengunjung untuk segera merogoh kocek. Potongan harga yang cukup menggiurkan bagi para pembelanja yang akan merayakan hari raya. Potongan harga itu berlaku untuk berbagai jenis barang, mulai dari pakaian, sepatu, sandal, kebutuhan rumah tangga hingga barang-barang elektronik.
“Menurut aku itu adalah suatu hal yang lumrah-lumrah saja! Emang sih selain puasa makanan, kita juga harus puasa keinginan, tapi aku sendiri yakin bahwa mereka melakukan itu karena mereka menganggap lebaran itu pokoke hari yang spesial! Kan mereka ingin melakukan yang terbaik di hari raya ini!” ujar Nur Asriyani (20). Menyoal kebutuhan keluarga selama Ramadhan, ia memaparkan “Kebutuhan kami selama bulan puasa biasa-biasa saja. Kalau pun ada, paling soal makanan. Kami biasanya punya masakan yang agak istimewa pada bulan Ramadhan ini, biasanya pada saat buka puasa. Setidaknya ada tambahan jenis makanan atau minumannya.”
Di sampaing banjir diskon di berbagai pusat perbelanjaan, selama bulan Ramadhan, Natal dan tahun baru juga terjadi kenaikan harga-harga barang, terutama sembilan bahan pokok kebutuhan rumah tangga yang sering kedapatan langka di pasaran. “Ya, namanya juga pedagang, kan aji mumpung! Mumpung ada situasi yang mendukung, mereka pasti lakoni itu. Tapi sebenernya aku sendiri sih sebel melihat keadaan dimana hampir semua harga barang melambung tinggi,” ungkap Aprilia Ambar Ariani (20). Apriani yang ayahnya seorang pegawai negeri sipil ini mengungkapkan bahwa uang tunjangan hari raya (THR) dari kantor, tempat bapaknya bekerja, digunakan untuk membeli makanan dan minuman sebagai jamuan tamu saat datang di hari Natal. “Nah, kalau ada sisanya, biasanya bapakku membagi-bagikannya kepada anak-anaknya,” tambah Ariani.
Cerita soal THR, tak beda jauh diungkapkan oleh Nur Asriyani. Ayahya bekerja sebagai dosen dan sepenuhnya perekonomian keluarga disokong oleh sang bapak. Memang, dibandingkan dengan para pedagang pendapatan para pegawai tak berubah selama Ramadhan. Kalaupun ada, itupun berasal dari dana (THR) yang diperoleh dari kantor, tempat sang pegawai bekerja. “Pendapatan keluargaku tetap segitu-gitu aja. Soalnya bapakku kan PNS, jadi nggak seperti para pedagang , yang mungkin pendapatannya meningkat drastis pada saat bulan puasa. Tapi biasanya dapet THR kok! He..he..he..” ujar Asriani.
Mengingat pendapatan keluarganya yang pas-pasan, keluarga Asriani memiliki strategi khusus dalam mengatur pengeluaran selama Ramadhan. “Kami biasanya membeli barang yang penting-penting dulu. Nah, kalau dalam hal makanan, biasanya kami menghemat. Caranya, makanan untuk berbuka kami buat agak banyak, dan kalau tersisa banyak, kami biasanya makan masakan itu lagi pada saat sahur. Tapi kalau soal pakaian, gak ada masalah kok, soalnya kami kan nabung di hari-hari sebelumnya,” papar mahasiswi semester lima ini.
Keluarga Apriani juga memiliki strategi yang tak berbeda dengan keluarga Asriani dalam menyiasati pengeluaran menjelang hari raya. “Harga barang naik, disebabkan karena kebutuhan makanan dan minuman atau hidangan lainnya meningkat. Ya, untuk persiapan menjamu tamu, teman dan kerabat yang datang ke rumah. Sebenarnya pas hari raya ini kita harus saling menyambung tali silahturahmi dengan halal bihalal atau berkunjung sekedar untuk mengobrol ringan. Nah, karena tahu kebutuhan akan naik, maka kami biasanya nabung atau ngirit-ngirit uang lah beberapa bulan sebelumnya,” papar Apriani.
Menjelang hari raya, tayangan-tayangan televisi sarat dengan berbagai program yang berbau religius. Mulai dari kuis, sinetron, lagu-lagu hingga komedi. Sangat kontras dengan hari-hari biasanya. Menanggapi fenomena ini, Asriani tak keberatan dan bisa memaklumi.“Menurut aku sih mereka melakukan itu sebagian besar karena ingin ambil untung aja dari momen Ramadhan. Tapi itu bagus kok, paling nggak mereka bisa menyesuaikan dengan keadaan,” ujarnya.
Menyoal pemaknaan hari raya, Apriani mengungkapkan bahwa perayaan hari raya sebagai momen yang tepat untuk berkontemplasi, merenung dan mengevaluasi diri. “Itulah sebabnya kebaktian adalah hal yang paling penting dalam perayaan Natal,” ungkapnya. Agama selalu mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana. Tak terkecuali menjelang hari raya. Boleh-boleh saja berbelanja asal tahu diri. “Kalau punya duit sih nggak apa-apa! Tapi kalau nggak, jangan memaksakan diri!cetus Apriani.
(I Made Perdana S & Igen Arya Wijaya)

>KOMPAS, Selasa, 02 Agustus 2005

dimuat d halaman 1 nasional. sehari setelah fatwa MUI 2005 dikeluarkan

Belajar Keragaman di Dusun Turgo
Oleh: Agnes Rita Sulistyawaty

Suhu udara Kamis (28/7) malam itu berkisar 21 derajat Celsius. Kondisi ini membuat sekitar 40 peserta Interfaith Youth Camp harus menahan dingin saat meditasi di alam terbuka.Udara sejuk di Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, saat itu dirasakan oleh seluruh peserta lintas agama yang berusia antara 18-24 tahun. Mulai Rabu sampai Minggu pekan lalu—dalam rangkaian peringatan sewindu Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB)—para peserta yang berbeda agama itu beraktivitas bersama di lereng selatan Gunung Merapi tersebut.
Pendeta Bambang Subagyo yang memimpin meditasi itu mengatakan, kegiatan meditasi bukanlah pemaksaan. Setiap peserta dibebaskan untuk meditasi dan berdoa sesuai dengan cara mereka masing-masing. ”Tiap agama punya kebiasaan untuk meditasi. Hanya, cara masing-masing agama bermeditasi itu yang berbeda. Tiap peserta dengan cara bermeditasi menurut agama atau aliran kepercayaan mereka itulah yang kami lakukan di sini,” ujar Bambang menjelaskan. Meditasi merupakan salah satu kegiatan untuk mendekatkan anak-anak muda pada keragaman cara berdoa dari masing-masing agama. Tidak hanya lewat meditasi saja anak-anak muda itu dikenalkan pada pluralisme kehidupan sesungguhnya. Persentuhan dengan teman atau warga Dusun Turgo yang beragama lain merupakan pengalaman langsung tentang pluralisme.
Hanya tiga jam pertama setelah sampai di Dusun Turgo, para peserta merasa canggung karena belum saling mengenal. Namun, menit berikutnya mereka sudah saling melemparkan lelucon, masuk dalam kelompok-kelompok kegiatan, dan menjalani kegiatan bersama tanpa harus tersekat akibat perbedaan agama.
”Awalnya saya enggan ikut kegiatan seperti ini karena melihat acaranya yang berat. Tapi, ketika diberi tahu teman bahwa peserta kegiatan berasal dari lintas agama, saya justru tertarik ikut,” tutur Deta Agus Sri Wahyu (22). Mengenal teman dari lintas agama, menurut Deta, adalah hal yang menyenangkan karena ia bisa bertukar pikiran tentang agama lain. Di hari pertama berkemah, Deta yang beragama Kristen Protestan itu bercakap-cakap dengan seorang kawan Muslim tentang kitab suci masing-masing.
”Dia sampai meminjam kitab suci saya untuk mengetahui apa isinya. Sampai sekarang (hari Sabtu—Red) kitab suci saya belum dikembalikan,” ujarnya. Deta sendiri sudah cukup akrab dengan Al Quran karena keluarga ayahnya adalah keluarga Muslim. Kebersamaan Anggapan-anggapan tentang keburukan orang-orang beragama lain yang selama ini ”dicekokkan” ke dalam pikirannya tidak terbukti setelah Deta bergaul dan berkomunikasi dengan teman yang berbeda agama. Justru kebersamaan terbangun ketika Deta dan para peserta lain bekerja sama dengan warga membersihkan masjid, gereja, atau sekolah dasar yang ada di kampung itu. Perbedaan agama tidak menjadikan batasan ketika harus masuk ke rumah ibadat agama lain dan membersihkan fisik rumah ibadat itu. Gotong-royong ini merupakan milik masyarakat di Dusun Turgo.
Kepala Dusun Turgo Suwaji mengisahkan, ketika masjid di Dusun itu rusak akibat letusan Gunung Merapi pada 1994, seluruh warga dusun tersebut segera turun tangan membantu renovasi masjid. ”Bantuan untuk masjid yang rusak itu tidak hanya datang dari kelompok Muslim, tetapi juga dari para suster maupun aktivis agama lain, sedangkan seluruh warga menyumbangkan tenaga mereka untuk pemulihan masjid itu,” ujar Suwaji menceritakan.
Kerja sama tanpa memandang agama jugalah yang membuat warga Dusun Turgo bisa menyelesaikan pembangunan pipa air yang juga rusak karena letusan Gunung Merapi tahun 1994 itu. Sampai saat ini bapak-bapak di Dusun Turgo yang beragama Islam, Kristen Protestan, Katolik, maupun agama lain tetap bergotong-royong memecahkan batu alam untuk dijadikan jalan kampung setiap hari Rabu. Sementara kaum ibu biasanya membersihkan jalan kampung setiap Sabtu sore. Selain pembangunan fisik desa, kenduri di sana juga dilakukan bersama-sama oleh warga Dusun Turgo.
”Kalau ada warga yang hendak menikah atau khitanan, kami mengadakan kenduri atau doa bersama dalam adat Jawa,” kata Suwaji. Belajar keragaman Masyarakat Dusun Turgo yang sebagian besar adalah petani merupakan salah satu contoh masyarakat desa yang menerapkan pluralitas dalam kehidupan keseharian mereka. Pluralitas di Dusun Turgo, menurut Sekretaris Jenderal FPUB Timotius Apriyanto, sudah terbangun secara alamiah sejak lama. Di dusun dengan 225 keluarga dan terletak sekitar 8 kilometer dari Gunung Merapi itu para peserta yang tinggal di 10 rumah warga belajar tentang kehidupan masyarakat, termasuk keragaman agama.
”Anak-anak muda saat ini sering kali takut bergaul dengan teman berbeda agama karena banyak sekali doktrinasi tentang pluralisme yang sempit. Di Dusun Turgo ini mereka mendapatkan pengalaman baru tentang pluralisme,” kata Kiai Haji Abdul Muhaimin, Ketua FPUB. Acara perkemahan ini bukan sekadar menambah wacana tentang pluralisme, tetapi yang lebih penting adalah pengalaman langsung tentang kehidupan plural yang nyata dalam masyarakat. Pengalaman ini dipandang oleh Muhaimin—dari Pondok Pesantren Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta itu—sebagai sesuatu yang penting di tengah munculnya gerakan fundamentalisme agama pada institusi pendidikan di Yogyakarta.
Fundamentalisme agama itu membuat wawasan anak muda tentang pluralisme agama menjadi sempit dan akhirnya mengisolasi anak muda dari pergaulan dengan orang lain. Pengalaman tentang kehidupan antar-agama itu menjadi sesuatu yang baru bagi peserta Interfaith Youth Camp ini.

”Kami belajar dari masyarakat Turgo untuk hidup bersama tanpa ada sekat apa pun, termasuk sekat agama. Di sini kami belajar dari warga dusun yang masih memberikan ucapan selamat kepada warga yang merayakan hari raya keagamaan tertentu,” ucap Ariya Wijaya dari Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) UGM yang juga menjadi Ketua Panitia Interfaith Youth Camp.
Ahsan dari Divisi Jaringan Kodama (sebuah kelompok Santri di Krapyak yang mempunyai kegiatan pemberdayaan masyarakat) melihat kehidupan bersama masyarakat di Dusun Turgo sebagai sesuatu kearifan lokal. ”Selama ini masyarakat desa seolah-olah tidak punya kearifan lokal sehingga segalanya harus diatur orang-orang kota. Padahal, saya justru belajar dari masyarakat desa tentang kehidupan bersama antara warga yang berbeda agama,” ujar Ahsan. Dari kehidupan masyarakat desa inilah Ahsan melihat pengaturan kehidupan sehari-hari antar-umat beragama adalah sesuatu yang berlebihan. Mungkinkah kita harus belajar dari masyarakat desa untuk memandang keragaman sebagai sesuatu yang indah?

>cari kerja

Majalah “Kabare Kagama” Edisi 158/XXXI/Agustus 2005

menyandang status penganggurna pasti ga da enaknya. gw dl ngerasa ada beban segede gunung.tp untunglah itu cepat berlalu. buat yg jd jobseeker slamt berjuang terussss.....tuk yg merasa tersinggung maafkanlah sobatmu yg usil ini.....


Mengejar Kesempatan Kerja yang Tak Kunjung Tiba


“Sejak wisuda Desember 2004 lalu sampai sekarang aku belum dapat kerja, Mas,” keluh Sugeng Arianto, lulusan D3 Teknologi Pertanian UGM. Ia jauh-jauh datang dari kampung asalnya di Temanggung berharap memeroleh pekerjaan dari perusahaan yang mengikuti Indonesian Graduate Recruitment Expo (IGRE), yang digelar di Jogja Expo Center 17-19 Juni 2005. Selama ini, akunya, ia telah mengirimkan 15 surat lamaran, tapi tak ada yang satupun yang menerimanya menjadi karyawan. “Paling banter dulu cuma sampai tes wawancara. Abis itu ora ono kabare,” ungkap Sugeng.
Pengalaman serupa juga dipaparkan Edo, lulusan Fakultas Hukum UGM. “Wah, aku sudah ngelamar dan tes ke mana-mana. Sampai capek,” keluhnya. Sebenarnya ia sangat ingin bekerja di bidang perbankan, tetapi melihat kondisi yang ada, ia akan menerima pekerjaan apapun.
Kalau Sugeng dan Eduard datang ke IGRE dengan harapan mendapatkan pekerjaan pertamanya, lain lagi kisah Kristanto. Lulusan D3 Ekonomi sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta ini sengaja datang ke IGRE untuk memeroleh pekerjaan yang lebih baik. “Aku pengen jadi kolektor, Mas,” ujar pekerja di sebuah toko di Yogyakarta ini. Kolektor yang dimaksud Kristanto adalah orang yang tugasnya menagih utang. Ia mengemukakan alasannya mencari pekerjaan baru karena gaji yang diperolehnya kini tak cukup untuk menanggung masa depannya. “Aku kan pengen nikah dan punya anak,” terang Kristanto yang pernah gagal menikah ini.
Kalau soal pengalaman kerja, Kristanto tak berkecil hati. Tetapi jenjang pendidikannya sering membuatnya patah arang. “Itu ada lowongan. Tapi syaratnya harus S1,” ujarnya seraya menunjuk iklan yang ditempel di dinding stan sebuah perusahaan jasa telekomunikasi.
Sugeng, Eduard, dan Kristanto adalah sekadar contoh betapa sulitnya memeroleh pekerjaan yang layak. Persoalan kesempatan kerja selayaknya merupakan tanggung jawab negara untuk menyejahterakan rakyatnya. Namun, tampaknya, negara gagal dalam menyediakan lapangan kerja bagi jutaan angkatan kerja di negeri ini.
Tengok saja, misalnya, data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) DIY ini. Tahun 2001, jumlah pencari kerja mencapai 53.376 orang. Tahun 2002, jumlahnya meningkat tajam lebih dari 100 persen, atau mencapai 128.634. Tahun 2003, jumlahnya meningkat lagi hingga 143.892. Angka-angka tersebut memperlihatkan adanya kenaikan jumlah pencari kerja sejak tiga tahun terakhir.
Mendapat pekerjaan di era yang kian penuh persaingan ini bukan perkara gampang. Tak cuma sekedar bermodal Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi. Sugeng buktinya. Dengan IPK 3,27 hingga kini ia masih menganggur. Lalu sebenarnya apa kiat agar cepat diterima kerja?
Drs. Bagus Riyono, MA. dari Career Development Center (CDC) UGM dan juga pengajar di Fakultas Psikologi UGM mengatakan bahwa persoalan melamar kerja merupakan kiat menjual diri. “Setiap pelamar kerja harus tahu kompetensinya. Kita harus terus menggali potensi diri. Pengalaman-pengalaman semasa kuliah akan sangat membantu,” ujarnya pada suatu seminar.
Masing-masing perusahaan memiliki cara penilaian tersendiri bagi calon karyawannya. Sigit, karyawan HSBC yang bertugas menjaga stan perusahaannya di IGRE lalu, mengatakan bahwa perusahaan akan menerima seseorang menjadi karyawannya bila ia tahu apa pekerjaan yang akan dilakukannya. Juga ia harus punya motivasi meningkatkan diri dan perusahaannya. “Kalau orang sudah terbiasa berinteraksi dengan orang lain, karirnya akan cepat naik,” ujar Sigit. Selama IGRE digelar, pihak HSBC sudah menerima ratusan surat lamaran. Padahal, “Kami hanya akan merekrut 20 karyawan untuk kantor kami yang baru,” terang lulusan Teknik Industri UPN Veteran Yogyakarta ini.
Banyaknya pengangguran di negeri ini ditengarai oleh gagalnya sistem pendidikan yang diajarkan di sekolah hingga universitas. Kurikulum yang terlalu teoritis dituding sebagai biang kerok penyebab lulusan perguruan tinggi tidak siap untuk bekerja. Ini dibenarkan oleh Danar, lulusan Ilmu Komputer UGM yang kini bekerja di sebuah bank BUMN di Jakarta. “Waktu saya memasuki dunia kerja, saya merasa ada kesenjangan antara dunia kampus dengan dunia kerja. Untung saja, training bagi karyawan baru yang saya ikuti selama sepuluh bulan sangat membantu saya beradaptasi,” terang Danar.
“Pendidikan kita masih mengajarkan konsep lama. Belajar yang rajin biar cepat lulus, IPK tinggi, dan bekerja di perusahaan dengan gaji yang tinggi,” tambahnya. Seharusnya, sejak dini setiap manusia Indonesia diajari berwiraswasta. Menciptakan peluang bisnis. Namun, itu bukan perkara mudah. Pasalnya, berwiraswata itu membutuhkan kesabaran yang tinggi. Dan untuk mencapai kesuksesan diperlukan waktu yang lama, tidak bisa instan.
Tetapi, lebih dari itu, pengalaman berwiraswasta mampu mendorong seseorang untuk kreatif dan terus belajar. “Selama kuliah dulu, saya coba-coba berbisnis kecil-kecilan. Ya, lumayanlah apa yang saya lakukan dulu ternyata sangat berguna dalam menunjang karir saya sekarang ini,” terang Sigit tanpa mau menyebutkan jenis bisnisnya. Selain itu, Sigit menyarankan untuk terus mengembangkan diri dan mau belajar. Ini karena dalam dunia kerja, seseorang bekerja dalam sebuah tim. “Walaupun background pendidikan saya teknik, tapi saya nggak kesulitan kerja di bank,” aku Sigit.
Keinginan mendapat pekerjaan secepat mungkin tentu diinginkan oleh semua orang. Syukur-syukur gajinya tinggi. Sepertinya Sugeng, Edo, dan Kristanto masih harus terus berusaha untuk mencapai pekerjaan yang diimpikannya.
Ayunan langkah-langkah mereka menyusuri stan demi stan 20 perusahaan di arena IGRE seirama dengan lantunan lagu balada karya Iwan Fals berikut ini.

“Engkau sarjana muda/ resah mencari kerja/ mengandalkan ijazahmu
Empat tahun lamanya/ bergelut dengan buku/ tuk jaminan masa depan.”

>rehabilitasi korban narkoba

Majalah “Kabare Kagama” Edisi 160/XXXIII/Februari 2006.

Pengalaman paling mengesankan. Gw berada di antara org2 yg addicted kelakuannya aneh2, bahkan ada yg setengah gila.serasa berada di antara para napi d sel tahanan. Bahaya setiap saat dtg menerkam.ihhh……….gw disuruh nginep ma kyai. Biar lbh tajam laporan gw. ntar gw ikut gile.ampun! matur nuwun nggih kyai yg dah menerima gw ma ariel dg ramah………


Narkoba, si Pembawa Bencana


Perempuan korban Narkoba bisa jadi kanibal! Pernyataan ini bukan mengada-ada lho. Kalau tak percaya tanyakan saja pada KH RHA Anas Priharsaya (60), Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islami di Kulon Progo yang khusus menangani para pengguna dan korban Narkoba. Mengapa demikian? Menurut Anas para wanita korban Narkoba kalau sudah ketagihan akan menghisap darah menstruasinya sendiri. Celakanya, mereka juga kerap menggigit dan melukai orang yang berada di sekitarnya. Memang begitulah kalau sudah menjadi korban Narkoba, akal sehat jadi tersumbat.
Dewasa ini peredaran Narkoba luar biasa pesat. Tak cuma di perkotaan, kampung-kampung di pelosok desa pun tak luput dirambah. Dari segi pengguna juga cukup membuat kita miris. Kalau dulu para pengguna Narkoba sangatlah terbatas pada kalangan orang-orang berduit. Namun, sekarang ini, dari kuli bangunan hingga pejabat negara jadi pengguna Narkoba. Celakanya lagi, anak-anak usia sekolah dasar sudah ada yang menjadi pengguna Narkoba! Bagaimana dengan mahasiswa?
Data yang dikeluarkan oleh Dit Reskrim Polda DIY menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2003-2005 terjadi 606 kali kejadian dengan melibatkan 682 tersangka, 655 laki-laki dan 27 perempuan (lihat tabel).
tahun
frekwensi kejadian
tersangka (orang)
jenis kelamin
laki-laki
perempuan
2003
207
245
239
6
2004
195
205
195
10
2005
204
232
221
11
jumlah
606
682
655
27







(Sumber Dit Reskrim Polda DIY)

Dari jumlah tersangka yang tertangkap tersebut, ternyata, kelompok umur yang rentan menjadi pengguna Narkoba adalah kelompok umur 19-40 tahun. Berdasarkan profesi mahasiswa merupakan kelompok pengguna Narkoba terbesar di DIY disusul oleh kaum marginal (buruh, petani, anak-anak jalanan, pengangguran, dan lain-lain), wiraswasta, pelajar, pegawai negeri sipil, dan TNI/POLRI. Ternyata, para calon intelektual negeri ini tak luput dari obat setan itu, justru menjadi “pimpinan puncak”.
Melihat kenyataan ini, tampaknya UGM tak mau berpangku tangan. Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang peduli terhadap persoalan masyarakat, UGM mendirikan Unit Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba (UP2N). Lembaga ini dirintis UGM pada tahun 2001 namun baru ditetapkan secara hukum setahun kemudian. Lembaga ini mempunyai tiga kegiatan utama yaitu: riset, konseling, dan training. Menurut Beben Rubiyanto, Sekretaris UP2N-UGM, penanggulangan penyalahgunaan Narkoba harus melibatkan semua pihak. Pihak-pihak yang dimaksud adalah pemerintah, lembaga pendidikan, instansi swasta, dan masyarakat luas. “Koordinasi antarjejaring sangat penting dilakukan,” ujar Beben. Pasalnya, persoalan penyalahgunaan Narkoba seperti lingkaran setan yang tak berujung-pangkal. “Kalau sudah terjerumus ke dalam Narkoba susah keluar,” tegasnya. “Nggak sedikit mahasiswa UGM yang menjadi pengguna Narkoba, lho,” ujar Beben sembari menyebut sebuah fakultas di mana mahasiswa yang dimaksud tengah belajar.
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh UP2N UGM penyebab penyalahgunaan Narkoba merupakan interaksi dari berbagai faktor, antara lain individu, lingkungan, dan Narkoba itu sendiri. Dari ketiganya, faktor individu memegang peranan penting. Karenanya, penyadaran kepada kelompok-kelompok yang rentan menyalahgunakan Narkoba harus terus digalakkan. Misalnya, kepada para remaja yang tergolong kelompok yang berisiko tinggi.
Selain melakukan advokasi kepada kelompok yang rentan menyalahgunakan Narkoba, UP2N-UGM juga mengadakan konseling bagi pengguna Narkoba. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan solusi bagi para pengguna yang ingin sembuh dari ketergantungan Narkoba. Bagi yang sudah sembuh diadakan training. Ini bertujuan untuk memberdayakan mantan pengguna agar tidak kembali mengonsumsi Narkoba. Dalam training ini mantan pengguna Narkoba juga diberi bekal keterampilan guna mendampingi para pengguna yang ingin sembuh dari ketergantungan Narkoba.
Kegiatan UP2N-UGM ini lebih difokuskan kepada penanganan para pengguna Narkoba, bukan korban Narkoba. Pasalnya, UGM belum memiliki Rumah Sakit Khusus untuk merehabilitasi korban Narkoba. Lalu sebenarnya apa beda pengguna dan korban Narkoba? Menurut Anas Priharsaya keduanya dapat dibedakan berdasarkan kondisi fisiknya. Kalau pengguna Narkoba keadaan fisiknya masih baik, seperti orang kebanyakan. Tetapi lain halnya dengan korban Narkoba. Korban Narkoba yang ditangani oleh Anas umumnya dalam keadaan fisik yang rusak, bahkan ada yang lumpuh.
Bagaimana tahapan seseorang bisa terjerumus ke dalam penyalahgunaan Narkoba? Menurut Beben tahap penggunaan penyalahgunaan Narkoba biasanya diawali dengan merokok. “Dari kebiasaan menghisap tembakau inilah terbuka jalan untuk menghisap ganja,” terang Beben. Agaknya, ini merupakan peringatan dini yang patut diperhatikan oleh para perokok! Setelah itu timbul perasaan ingin tahu (coba-coba) bagaimana nikmatnya Narkoba. Dari sekadar ingin tahu lalu berubah menjadi hiburan. Lantas menjadi kebiasaan. Dan, akhirnya mencapai tahap ketergantungan. Nah, kalau sudah mencapai tahap paling akut disebut chaotic, bisa mengalami kelumpuhan dan kerusakan organ tubuh bagian dalam.
Kalau sudah begini perlu terapi yang komprehensif untuk menanganinya. Tak sekadar terapi medis, melainkan juga terapi agama seperti yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Al-Islami di Dusun Padakan, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Pesantren tersebut mulai menangani korban Narkoba sejak tahun 1980. “Awalnya karena terpaksa,” papar Anas Priharsaya memulai kisahnya. Kala itu ia didatangi para orangtua yang menginginkan anak-anak mereka yang nakal agar dididik menjadi anak yang baik. Namun, kian lama yang datang kepadanya tak cuma anak-anak nakal tapi juga para pengguna dan korban Narkoba. Akhirnya dengan kemampuan seadanya, Anas memulainya dengan terapi agama. Hasilnya? “Alhamdulillah, banyak yang berhasil,” ungkap Anas bangga.
Terapi agama yang digunakan adalah dzikir. “Mereka saya ajak berdzikir Asma’ul Husna,” terang Anas. Namun, metode ini dinilai kurang optimal. Lalu, sejak tahun 2000 digunakan pula metode medis. “Jadi, sekarang digunakan metode medis dan agama,” ujar Anas. Metode medis digunakan pada tahap awal penanganan korban Narkoba. Setelah kondisi fisiknya dirasa cukup baik, dimulailah terapi agama. Selain dzikir, sholat dan membaca Al-Quran menjadi menu wajib.
Keampuhan Anas dalam menangani korban Narkoba sudah tak diragukan lagi. Maka tak heran banyak orang dari berbagai pelosok daerah datang kepadanya. Bahkan, setiap hari Minggu Anas selalu kedatangan tamu yang jumlahnya ratusan. Tamu yang datang umumnya rombongan pelajar. Yang datang tak cuma yang Muslim. Ada juga yang Kristen. Meski demikian metode dzikir juga tetap dilakukan. Hanya caranya berbeda, “Dzikir diam,” kata Anas. Sekitar satu jam para tamunya diajak berdzikir. “Mulai jam 09.30 hingga 10.30,” jelas Anas. Dalam dzikir itu Anas mengajak tamunya untuk merenungkan kembali perbuatan yang telah dilakukan dengan mengagungkan asma Allah sehingga kesadaran diri bisa diraih.
Tujuan terapi yang dilakukan Anas tak cuma membuat pasiennya sembuh secara medis melainkan sembuh pula secara agama alias tobat. Tak bisa dipastikan berapa lama waktu yang diperlukan. “Yang paling menentukan adalah peran keluarga,” terang R Deddy Arliadi, Ketua Bidang Teknik, Sarana, dan Logistik yang juga menantu Anas. Keluarga menjadi kunci keberhasilan bagi si korban untuk keluar dari jerat Narkoba. Pihak keluarga harus menanamkan kembali kepercayaan kepada anggota keluarganya itu. “Jangan mengungkit-ungkit kembali kejadian yang telah lalu,” pesan Deddy. Ia mencontohkan pernah ada kejadian di mana pihak keluarga korban Narkoba yang datang menjenguk justru dipukuli oleh si korban itu lantaran pihak keluarga mengungkit kembali lembaran kelamnya. Kalau sudah begini sia-sialah yang telah dilakukan selama ini. “Ya, harus dimulai dari awal lagi,” kata Deddy. Soal kesembuhan, katanya, pihaknya tak bisa menjamin hingga 100%. “Paling maksimal 75%,” terangnya. Ini lantaran pesantren Al-Islami hanya berperan sebagai fasilitator. Semuanya kembali berpulang kepada peran aktif keluarga.
Saat ditemui Kabare Kagama di pengujung Januari lalu pesantren Al-Islami tengah menangani 42 orang korban Narkoba, tiga di antaranya perempuan. Kesabaran dan ketekunan Anas selama bertahun—tahun dalam menangani korban Narkoba bukannya tanpa batu sandungan. Kendalanya klasik, soal pendanaan. Selama ini pendanaan berasal dari usaha peternakan ayam potong yang dikelola pondok pesantren. “Kami mengelola empat unit peternakan ayam. Masing-masing sepuluh ribu ekor,” jelas Anas. Sebenarnya, Anas bukannya tak menampik uluran bantuan dari pihak luar. Selama ini banyak instansi yang berjanji membantunya, tetapi hasilnya nihil. “Kalau zaman Orde Baru lalu kami masih mendapat bantuan pemerintah. Tetapi sejak otonomi daerah berjalan, kami malah tak mendapat perhatian,” sesal Deddy. Alhasil, untuk mencukupi kebutuhan pesantren setiap pasien yang dirawat dikenai biaya. Tapi tak semua demikian. Dari 42 pasien yang ada, 20 di antaranya dirawat secara cuma-cuma. Sedangkan dokter yang menangani secara medis “dibayar” dengan harga kekeluargaan. Pasalnya, dokter tersebut tak lain adalah putri kandung Anas sendiri.
Apa yang dilakukan oleh Anas dengan komunitas pesantrennya merupakan peran serta instansi swasta seperti yang dimaksud Beben di atas. Lalu bagaimana dengan pemerintah? Pemerintah membentuk suatu lembaga khusus di bawah koordinasi POLRI yang diberi nama Badan Narkotika Nasional (BNN). Namun, kinerja BNN agaknya layak untuk dipertanyakan kembali. Ini terbukti ada saja oknum aparat TNI/POLRI yang terlibat dalam peredaran Narkoba.
Sebenarnya, Narkoba bukan barang baru di Indonesia. Buku “Opium to Java” karya James Rush menggambarkan awal kemunculan Narkoba di Nusantara pada abad ke-19 yang didominasi oleh orang-orang Belanda. Meski sudah seratus tahun Narkoba bercokol di Tanah Air tetapi mengapa penyalahgunaannya sulit diberantas? Mari kita bantu pemerintah dengan tidak mengonsumsi Narkoba. Nyoba Narkoba? Jangan deh, nggak ada gunanya!


>penelitian di UGM

Majalah “Kabare Kagama” Edisi 158/XXXI/Agustus 2005


Melongok Tradisi Penelitian di UGM


“Kemampuan kita sebenarnya tidak kalah dengan orang asing. Kita hanya kurang percaya diri, terutama dalam berbahasa Inggris,” ujar Gayatri Indah Marliyani, mahasiswi Teknik Geologi. Pendapat tadi bukanlah tanpa alasan. Pada Pebruari-Mei 2005 lalu ia turut serta dalam proyek penelitian yang dilakukan oleh San Diego State University di suatu daerah di Jawa Timur. Selama penelitian itu ia memeroleh pengalaman dan ilmu yang sangat berharga.
Sejak dicanangkan sebagai research university, kegiatan penelitian di UGM kian menggeliat. Menurut Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Prof. Dr. Retno S. Sudibyo, M. Sc., Apt. research university adalah sebuah mindset bagi civitas akademika UGM. “Jangan dilihat secara kuantitas. Tetapi tolong dilihat sebagai sebuah upaya agar pendidikan dan pengabdian itu berbasis riset,” jelas Retno.
Untuk mewujudkan UGM sebagai research university, rektorat membuat empat agenda kerja, meliputi pembentukan mindset, pembentukan klaster, hibah dana penelitian (grant), dan pelatihan (workshop).
Kalau sebelumnya penelitian didasarkan pada scientific dan cenderung monodisipliner, kini UGM membuat terobosan dengan mengemukakan tiga konsep baru. Penelitian di UGM harus memiliki keunggulan. Untuk itu setiap usulan penelitian harus 1) inovatif dan inventif, 2) aplikatif dan kolaboratif, dan 3) multidisipliner.
Untuk menuju konsep tersebut UGM telah membentuk klaster sebagai wahana implementasi kebijakan rektorat. Klaster yang dibentuk sifatnya bukan struktural melainkan fungsional. Ada empat klaster yang dibentuk, yaitu sosial humaniora, agro, sains dan teknik, dan kesehatan dan kedokteran. Masing-masing memiliki kompetensi studi. Klaster sosial humaniora memfokuskan pada kesejahteraan sosial. Klaster agro memfokuskan pada keamanan dan keselamatan pangan. Klaster sains dan teknik memfokuskan pada material cerdas. Klaster kesehatan dan kedokteran memfokuskan pada studi tentang kanker.
Klaster-klaster tersebut berbeda dengan pusat-pusat studi yang sudah ada, kini tercatat ada 29 pusat studi yang dinaungi UGM. Bedanya, kalau klaster bersifat interdisipliner sedangkan pusat studi bersifat monodisipliner.
Untuk penelitian interdisipliner, Retno mencontohkan penelitian yang dilakukan oleh Kedokteran Gigi dengan Fisika Teknik dalam membuat gigi buatan yang sangat mirip dengan aslinya.
Tak cukup sampai di situ, UGM juga memiliki RUTI (Riset Unggulan Terpadu Internasional) yang mulai dilakukan penjaringan tahun 2005 ini. “Syaratnya, harus punya partner internasional,” jelas Retno. Dengan rancangan riset yang demikian diharapkan UGM dapat menarik dana riset yang cukup banyak. Namun sayangnya, Retno tak menyebutkan secara pasti dana riset yang telah dihimpun UGM. Tapi yang jelas, menurut Retno, dana milyaran rupiah sudah dikantongi UGM.
Riset-riset yang dirancang sedemikian rupa tersebut diharapkan mampu mengangkat nama UGM dalam jajaran universitas terbaik di dunia. Untuk itu, tentu saja riset-riset unggulan tersebut harus dipublikasikan dalam jurnal-jurnal internasional. Di sinilah ketangguhan para akademisi UGM dipertaruhkan. Selama ini, publikasi internasional untuk riset-riset di lingkungan UGM masih kurang. “Banyak dosen yang belum mengetahui bagaimana tata-cara menulis di jurnal internasional,” terang Retno.
Untuk itu UGM giat mendorong penguatan penulisan ilmiah bagi para akademisinya agar mampu go international. Salah satunya dengan mengadakan program International Scientific Writing bagi para akademisi UGM. “Tahun ini diadakan tiga kali lokakarya penulisan ilmiah. Yaitu pada bulan Juni, Agustus, dan Oktober. Masing-masing diikuti oleh 40 peneliti,” terang Retno.
Keberhasilan research university, menurut Retno, dapat dilihat pada alokasi dana riset yang berkisar 50-70%. Selain itu, terjadi keseimbangan antara lulusan pascasarjana dengan S1.
Bagaimana para akademisi UGM menanggapi iklim riset yang sedang melonjak ini? Menurut Dra. Ani Setyopratiwi, M.Si, dosen Jurusan Kimia FMIPA, ia sangat terbantu dengan berbagai kemudahan dalam melakukan penelitian. “Selain kemudahan mendapatkan dana riset, saya jadi terpacu untuk membuat proposal penelitian karena sifatnya yang kompetitif,”ujar Ani.
Cita-cita UGM sebagai research university tak cuma menggembleng para akademisinya, tetapi juga merambah para mahasiswa tingkat S1-nya. Untuk menanamkan jiwa meneliti, mahasiswa UGM dididik untuk belajar interdisipliner. Interdisipliner menuntuk mahasiswa untuk memecahkan persoalan yang aktual di masyarakat dengan pendekatan beberapa disiplin ilmu. Untuk itu, tiap mahasiswa harus berpikir terbuka untuk mau terus belajar dan tidak boleh ada arogansi jurusan mana yang paling baik. Untuk itu agaknya cukup tepatlah program Kuliah Kerja Nyata (KKN) digulirkan.
Namun sayangnya, KKN kurang mendorong mahasiswa untuk berpikir dan bertindak ilmiah. Menurut Retno, program penelitian untuk mahasiswa S1 memiliki tiga hal yang sulit dipunyai. Pertama, penelitian harus bersifat unggulan. Ini sulit dilakukan oleh mahasiswa karena kapasitas pengetahuan dan keterampilan ilmiahnya masih sangat terbatas. Kedua, harus berkelanjutan. Lama studi mahasiswa yang cukup singkat tidak memungkinkan dilakukan riset yang mendetail dan dalam jangka waktu lama Ketiga, harus punya networking yang luas. Ini jelas sulit dilakukan mahasiswa.
Tapi, UGM masih punya program lain yang cukup mengesankan untuk medorong lahirnya para peneliti muda. Setiap tahun UGM rajin mengirimkan mahasiswanya untuk mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional. “Tahun 2005 ini ada 22 proposal penelitian mahasiswa yang akan diikutsertakan dalam PIMNAS di Padang,” terang Sunarto, S. Sos., Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UGM, yang ditemui di ruang kerjanya.
Selain itu ada pula Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) untuk menjaring mahasiswa yang tertarik menuliskan ide-idenya yang dituangkan secara ilmiah ke dalam tiga kategori, IPA, IPS, dan pendidikan. “UGM masuk wilayah B. pemenang di tingkat universitas akan dsaring lagi tingkat wilayah kemudian pemenangnya akan dikirm mengikuti PIMNAS di Padang,” ungkap Sunarto.
Pada seleksi tingkat wilayah 2005 ini, wakil UGM bidang IPS berhak melaju ke Padang. Melongok partisipasi UGM pada PIMNAS tiap tahunnya, kiranya seluruh civitas akademika UGM patutlah bangga. Pasalnya, UGM selalu menempati tiga besar juara dengan dibayang-bayangi oleh IPB dan Unibraw.
Masih ada satu lagi ajang lomba penelitian mahasiswa. Namanya Program Kreativitas Mahasiswa. Menurut catatan Sunarto, ada 312 proposal penelitian yang diajukan berasal dari berbagai fakultas di UGM. Tetapi, yang memenuhi kriteria dan mendapat bantuan penelitian hanya sebanyak 57 proposal.
“Sekarang ini penelitian mahasiswa sedang booming. Ini tidak terlepas dari peran serta dosen pembimbing penelitian,” komentar Sunarto memberi alasan. Minat mahasiswa terhadap penelitian merupakan buah dari kerja keras yang berkelanjutan selama ini. Setiap tahun selalu diadakan lomba penulisan ilmiah di tiap fakultas. Belum lagi berbagai lomba menulis esai atau ilmiah popular yang diselenggarakan oleh badan proyek DUE-LIKE maupun berbagai organisasi intrakampus. Dan lagi, untuk mendorong mahasiswa lebih aktif mengembangkan diri, baik di bidang akademik maupun nonakademik, setiap tahun UGM mengadakan pemilihan mahasiswa berprestasi.
Berbagai kegiatan tersebut bukannya tanpa cela. Setidaknya penuturan Husni Thamrin, wakil UGM pada PIMNAS tahun 2004 lalu, patut direnungkan. ”Koordinasi panitia, terutama di tingkat fakultas harus dibenahi. Kompetisi harus lebih fair dengan mengumumkan adanya lomba kepada seluruh mahasiswa dan setiap mahasiswa boleh turut serta. Bukan hanya mahasiswa yang ditunjuk oleh dosen tertentu,” kenang Husni.
Tahun lalu ia beserta kelima rekannya, di Jurusan Sejarah, melakukan penelitian partisipatif selama satu minggu di Dusun Jeruk, Kepek, Gunung Kidul. Bersama kelompoknya ia melakukan penelitian tentang tradisi rasulan. “Orang selalu mengidentikkan Gunung Kidul dengan kemiskinan. Kami tertarik melakukan penelitian di sana karena tradisi rasulan itu merupakan perayaan yang cukup mewah. Kemewahan di tengah himpitan ekonomi yang tak bersahabat itulah yang menarik,” terang mahasiswa yang berencana wisuda Agustus ini.
Terbersit kekhawatiran dalam benak Husni melihat minat belajar para mahasiswa sejak UGM diberlakukan sebagai BHMN. Pasalnya, mahasiswa angkatan 2003 dan 2004 agaknya kurang tertarik dengan hal-hal yang berbau penelitian. “Untuk menarik minat mereka, mungkin harus ada strategi khusus. Kalau zaman saya insentif berupa uang merupakan hal yang menggiurkan. Tapi generasi sekarang mungkin tak tertarik dengan sejumlah uang yang tak seberapa itu. Harus ada stimulan yang tepat,” papar Husni.
Persoalan riset tak bisa dilepaskan dengan kegiatan pendokumentasian dan publikasi hasil penelitian. Untuk itu kemampuan menulis mahasiswa harus benar-benar terlatih. Retno, Ani, dan Sunarto mengeluhkan kemampuan menulis para mahasiswa Kampus Biru. Husni menyadari bahwa kemampuan menulis mahasiswa memang masih harus ditingkatkan. Namun, ia merasa beruntung kuliah di jurusan Sejarah. Pasalnya, di setiap angkatan selalu dibentuk kelompok-kelompok studi. Di sana ia bisa mengasah kemampuannya dalam menulis secara runut dan sistematis.
Menyoal memancing motivasi mahasiswa untuk meneliti, selain adanya stimulan yang tepat seperti yang dipaparkan Husni, agaknya penuturan Ani patut dicermati. Selama ini Ani memancing motivasi mahasiswanya dengan cara memberikan beberapa pilihan tema penelitian. Selain itu, ia kerap mengundang pihak industri agar mahasiswa mampu melihat dan memadukan teori dengan praktik.
Saran yang lebih detail dipaparkan oleh Sunarto. Ada empat saran usulnya. Sosialisasi yang baik, kompetisi tiap fakultas diperketat (bahkan kalau bisa dilakukan lomba tingkat jurusan), insentif bagi pemenang, dan lokakarya untuk membimbing mahasiswa bernalar ilmiah.
Kalau para mahasiswa telah merasa kegiatan penelitian merupakan sebuah kebutuhan dan mereka mampu melaksanakannya, bukan tak mungkin bila UGM akan menghasilkan para peneliti andal. Pengalaman Gayatri dan Husni di atas, patut ditularkan kepada mahasiswa lain. Dengan demikian, agaknya, cita-cita UGM sebagai research university akan benar-benar terwujud. Semoga!

>tentang menulis


Majalah “Kabare Kagama” Edisi 158/XXXI/Agustus 2005





Menggoreskan Tinta, Menuai Makna


“Manusia boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan musnah dari peradaban dan dari sejarah.”

Sepotong kalimat yang ditorehkan Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu tetraloginya itu boleh jadi sebuah penyemangat bagi para pecinta dunia aksara. Bagi banyak orang menulis adalah kegiatan yang tak menyenangkan. Namun, bagi sebagian ysng lain, menulis justru sebuah aktivitas yang sangat menyenangkan. Bisa jadi, dari cuma sekadar hobi menulis, ternyata, rupiah bisa diraih. Bahkan, bila ditekuni lebih serius menulis bisa juga dijadikan profesi.
Sebuah harian nasional pernah menurunkan berita seputar potensi dunia penerbitan buku di Indonesia dan Malaysia. Dewasa ini pertumbuhan penulis-penulis muda Indonesia sangat menggembirakan. Ditambah lagi banyaknya buku yang dihasilkan. Padahal, masyarakat dan pemerintah Indonesia masih kurang memberi perhatian terhadap dunia yang satu ini. Umumnya, keinginan membaca masyarakat Indonesia cukup tinggi. Namun, ini tidak dibarengi dengan kemampuan membeli buku.
Sebaliknya, di negeri tetangga, Malaysia, yang jumlah penduduknya sekitar sepersepuluh dari jumlah penduduk Indonesia, pasar tampak terbuka lebar. Pasalnya, di sana, minat baca masyarakatnya sangat tinggi. Ini didukung oleh daya beli dan peran serta pemerintah Malaysia yang sangat tinggi. Namun, sayangnya, hal itu tidak diimbangi dengan pertumbuhan jumlah para penulis Malaysia. 90% buku-buku yang beredar di Malaysia merupakan impor. Dan, sebagian besar berbahasa Inggris. Ini merupakan sebuah peluang pasar bagi dunia penerbitan buku Tanah Air. Ya, setidaknya ini mampu sedikit demi sedikit menghapus stigma negatif soal TKI. Dari sini diharapkan Indonesia tak cuma sekedar “mengekspor” para TKI, tetapi juga mengekspor karya-karya intelektual anak bangsa.
Menyoal kemunculan penulis-penulis muda yang semakin banyak, boleh jadi ini bukan suatu kebetulan. Dalam hal ini Forum Lingkar Pena (FLP) bisa dijadikan contoh. FLP merupakan sebuah organisasi bagi para penulis dan calon penulis. Sejak didirikan pada tahun 1997 hingga kini, tak kurang 5000 orang telah tergabung di dalamnya. Mereka tersebar di hampir 30 provinsi dan mancanegara.
“Di FLP ini keanggotaannya terbuka. Meski memang bertujuan untuk dakwah Islam, anggota yang non-Muslim juga boleh bergabung,” terang Rullyansyah (23), anggota FLP Yogyakarta. Impian besar didirikannya FLP ini, katanya, adalah agar masyarakat Indonesia, terutama kaum mudanya, semakin mencintai aktivitas membaca dan menulis. Berbagai kegiatan digelar FLP. Dari rekrutmen anggota, diskusi, pelatihan, hingga penerbitan karya-karya anggotanya.
“Di FLP ada silabus yang wajib diikuti oleh setiap anggotanya. Setiap minggu selalu ada pertemuan,” ujar Reza Maulana (24), anggota FLP yang lain. Selama bergiat di FLP Rullyansyah dan Reza menuai banyak manfaat. “Tambah teman dan pengalaman itu pasti. Kami jadi tertular virus merangkai kata-kata,” ucap keduanya.
Sebagai organisasi nirlaba, kegiatan FLP hampir semuanya mengandalkan iuran para anggotanya. “Suatu saat kami ingin membuat kegiatan lain yang dapat memberi suntikan dana buat FLP. Mungkin membuat kursus menulis. Kalau cuma sekadar mengajari menulis, banyak angota yang bisa,” terang Bunda, moderator FLP Yogyakarta.
Ide membuat sekolah menulis itu telah diwujudkan oleh beberapa orang yang mendirikan Jogja Writing School (JWS). JWS Baru saja lahir di Gota Gudeg ini. Bahkan, angkatan pertamanya saja baru dimulai Juli 2005 ini. “Kursus menulis di JWS berlangsung selama 2,5 bulan. 1,5 bulan pertama para siswa dibekali teori. Sisanya, siswa dibimbing untuk membuat karya fiksi,” ungkap Aulia Fadhli, salah seorang staf JWS.
Kelahiran JWS mungkin bisa dianggap sebagai kejelian dalam melihat pasar. Telah menjadi rahasia umum bahwa Yogyakarta adalah gudangnya para intelektual, dan juga penulis. “Para pengajarnya berasal dari beberapa surat kabar yang ada di Yogyakarta. Juga ada dari kalangan akademisi,” tambahnya.
Selama ini, tambah pria berkacamata ini, pelatihan jurnalistik telah banyak diadakan. Tetapi itu semua tidak efektif karena waktu pelatihan yang sangat singkat dan tidak ada pembimbingnya. Menanggapi itu JWS telah merancang kurikulum agar para siswanya mampu menghasilkan karya yang layak jual. “Kursus menulis nantinya akan dilangsungkan secara outdoor dan indoor,” terang jebolan UIN Sunan Kalijaga ini. Ke depan, JWS akan membentuk komunitas kepenulisan. “Mungkin seperti FLP nantinya,” tambah Aulia.
Belajar menulis tak harus kursus, bukan? Menulis adalah kemampuan dasar setiap insan terpelajar. Namun, agaknya, banyak kaum terpelajar yang memandang sebelah mata terhadap hal yang satu ini. Akibatnya, banyak di antara mereka yang kurang bisa menuangkan ide-idenya dalam bentuk tulisan.
Kemampuan menulis dapat diasah secara otodidak. Seperti yang dilakukan oleh Wahyu Seno Aji (23) ini. Kerapkali ia menuangkan ide-idenya ke dalam tulisan dan mengirimkannya ke media massa lokal. Tercatat telah berualang kali tulisaannya menghiasi kolom sebuah media massa. “Yah, lumayanlah dapat honor,” komentarnya singkat. Kegiatan ini diakuinya sebagai hobi yang unik. “Terutama kalau uang kiriman sudah menipis. Rasanya ada hasrat yang menggebu untuk menulis,” ujarnya memberi alasan. Mahasiswa UGM ini mengaku sangat beruntung dapat menimba ilmu di Yogyakarta, Pasalnya, iklim Jogja sebagai kota pelajar sangat kondusif untuk belajar. Namun, ia khawatir dengan maraknya pembangunan mal belakangan ini dapat menyurutkan gairah belajar kaum terdidik di Yogyakarta.
Aura Yogyakarta sebagai penyebar pergulatan intelektual (tradisi membaca dan menulis) dipaparkan oleh Muhidin M. Dahlan dalam bukunya “Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta”. Dalam buku itu, ia memaparkan bagaimana ia tersihir oleh silaunya tumpukan buku yang berjejer rapi di lapak-lapak kios buku. Dari anak kampung yang tak pernah sekalipun menyentuh buku, ia menjadi keranjingan buku. Itu berlanjut ketika ia aktif menulis di pers kampus hingga kini sebagai penulis profesional.
Selain bisa dijadikan profesi, seperti yang dilakukan Muhidin, atau hobi yang mendatangkan lembaran rupiah seperti yang dilakukan Seno, ternyata menulis juga memberikan dampak psikologis. “Sejak saya rajin membaca dan menulis, rasa percaya diri saya semakin bertambah,” aku Hernowo, General Manager penerbit Mizan, dalam sebuah acara diskusi buku karyanya di sebuah toko buku di Yogyakarta.*

>wawancara VCO

Majalah “Kabare Kagama” Edisi 158/XXXI/Agustus 2005

Dra. Ani Setyopratiwi, M.Si:
“Membuat VCO itu Membutuhkan Kejujuran dan Ketekunan”
Laboratorium Kimia Fisika Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (MIPA) Universitas Gadjah Mada telah melakukan penelitian pembuatan minyak tanpa pemanasan sejak tahun 1980. Penelitian ini dilakukan oleh dosen-dosen di laboratorium maupun mahasiswa sebagai tema tugas akhir. Salah satu hasil penelitian tersebut yang akhir-akhir ini menjadi bahan pembicaraan adalah Virgin Coconut Oil (VCO).
Salah satu peneliti yang concern terhadap minyak kelapa ini adalah Dra. Ani Suryopratiwi, M.Si, yang saat ini menduduki jabatan Lektor Kepala di Jurusan Kimia UGM. Ditemui di ruang kerjanya, perempuan kelahiran Yogyakarta, 25 November 1962, ini sangat antusias menceritakan VCO yang banyak diperbincangkan orang itu.


Bagaimana ikhwal penemuan minyak kelapa ini?

Awalnya, orang-orang Barat heran melihat orang-orang di daerah tropis, seperti Indonesia, badannya langsing dan sehat. Jarang terkena penyakit berat seperti jantung, hipertensi, atau kanker. Setelah mereka selidiki, ternyata itu disebabkan karena orang Indonesia sering mengonsumsi minyak kelapa.

Sejak kapan Anda tertarik meneliti minyak kelapa?

Saya mulai meneliti minyak kelapa sejak awal menjadi dosen di Jurusan Kimia (ia menyelesaikan pendidikan S1 di Jurusan Kimia UGM tahun 1988. Pada tahun 1996 ia meraih gelar M.Si, juga dari UGM untuk bidang studi yang sama-red).

Bagaimana sebenarnya VCO itu?

Virgin Coconut Oil (VCO) adalah minyak kelapa yang benar-benar murni. Maksudnya, struktur kimiawinya sama persis ketika dalam bentuk santan. Uniknya, cara pembuatannya tidak boleh melalui proses pemanasan dan penambahan bahan.

Ada berapa cara untuk membuat VCO itu?

Ada tiga cara yang dikembangkan dalam pembuatan minyak kelapa, yaitu: pengasaman, pancingan, dan penggaraman. Ketiga cara tersebut dapat menghasilkan minyak dengan kualitas cukup baik dan tahan terhadap ketengikan yang disebabkan oleh kadar antioksidan alaminya yang masih utuh. Namun, kadangkala, ketiga cara tersebut tidak selalu berhasil.


Apa yang menarik dalam proses pembuatan VCO itu?

Di sinilah seninya, karena prosesnya yang rumit dan lama, butuh ketelitian, ketekunan, kesabaran, dan kejujuran dalam proses pembuatannya. Ini dilakukan agar citra VCO yang telah terbukti memiliki kemampuan yang sangat baik dalam meningkatkan kesehatan tidak terpuruk hanya karena pembuatan dan perlakuan yang tidak benar.

Apa manfaat VCO bagi kesehatan?

Minyak virgin yang dibuat secara benar memiliki khasiat dapat menurunkan LDL-kolesterol, menurunkan kadar gula darah, menurunkan berat badan, sebagai antioksidan, yang bahkan dapat menyembuhkan HIV/AIDS. Kebutuhan manusia terhadap monolaurin sebesar 1800–2400 mg per hari, sebagian besar dapat diperoleh dari minyak virgin yang memiliki kandungan asam laurat 48%.

Apakah efeknya dapat dirasakan langsung?

Kalau Anda capek-capek, pegal-pegal atau badan terasa nggak fit cobalah minum minyak ini, dijamin pasti tidur pulas. Ketika bangun badan Anda akan terasa lebih segar. (Lalau ia memberikan dua botol VCO ukuran 60 ml kepada Kabare Kagama untuk membuktikan khasiatnya-red).

Apakah VCO bisa digunakan untuk hal yang lain?

Tentu saja. Minyak ini dapat juga digunakan sebagai kosmetik, penyubur dan pelembut rambut, pelembab, dan membersihkan karang gigi.

Apakah VCO ini sudah dipasarkan secara luas? Bagaimana respon masyarakat?

Sudah. Banyak kok perusahaan yang sudah menjualnya. Tapi saya agak khawatir dengan banyaknya produk minyak virgin yang beredar di pasaran. Tidak semua yang ada di pasaran itu berkualitas bagus. Banyak VCO yang dibikin asal jadi, tanpa melihat segi kualitasnya. Padahal kalau dibuat asal jadi, ya sama dengan minyak kelapa biasa.
(Karena kekhawatiran itu, ditambah adanya tuntutan dari ahli kesehatan untuk menyediakan minyak kelapa yang murni, membuat ibu dua anak ini mendirikan perusahaan penghasil minyak kelapa dengan modal sendiri-red).
Kualitas VCO harus tetap dinomorsatukan. Itu memang sulit, karena proses pembuatan VCO cukup rumit dan memakan waktu lama, tidak sembarang orang bisa membuatnya. Soal respon masyarakat, mereka menyambut baik. Saya sampai kewalahan memenuhi pesanan mereka.

Bisa Anda ceritakan soal perusahaan Anda itu?

Perusahaan itu saya beri nama PT. Setia Putra Perkasa. Nama itu berasal dari kedua putra saya, yaitu Ardhi Setyo Putranto dan Adrian Setyo Prakosa. Namanya juga orangtua, bersusah payah bekerja ya hanya untuk anak.
Perusahaan saya selalu menjaga kualitas. Untuk menjaganya, saat ini kapasitas produksi dibatasi hanya 30 liter per hari. Bahan baku, berupa kelapa diperoleh dari berbagai daerah mulai dari Bantul sampai Kebumen. Kebutuhan bahan baku mencapai 300 butir kelapa per hari.
Perusahaan saya ini bekerjasama dengan sebuah perusahaan lain di Jakarta. Sesuai MoU, perusahaan saya sebagai produsen, sedangkan yang di Jakarta sebagai pemasar. Mereka berpesan agar kualitas dijaga. Untuk itu mereka meminta saya sendiri yang mengawasi. Ini sangat mungkin dilakukan bila produksi dilakukan di Yogyakarta. Ini juga yang melatarbelakangi saya mendirikan perusahaan.

Sampai saat ini, perusahaan saya mempekerjakan 10 orang dari warga sekitar Imogiri. Mereka (para pekerja-red) itu masih saudara dan tetangga para pegawai di lingkungan Jurusan Kimia UGM sini. Ya, lumayanlah bisa membuka lapangan kerja baru.
Proses pembuatan VCO masih secara manual. Masih menggunakan tenaga manusia, karena itulah diperlukan kesabaran, ketelitian, dan kejujuran. Oleh karena itu saya berani menjamin 100% minyak kelapa buatan perusahaan saya asli. Lagipula, ketika proses pemisahan minyak kelapa dengan air, saya sendiri yang langsung menangani. Sampai saat ini pembuatan VCO memang masih seperti itu. Ini disebabkan oleh proses yang digunakan merupakan skala laboratorium. Entah nanti kalau sudah ada teknologi yang memadai untuk dibuat skala industri besar.
Soal kejujuran ini merupakan hal yang sangat penting. Banyak VCO yang beredar di pasaran kualitasnya buruk karena ada oknum yang tidak jujur. Namanya juga bisnis, siapa sih yang mau merugi?

Apakah di pasaran terdapat pemalsuan VCO?

Wah, kalau itu pasti ada.

Bagaimana cara membedakan VCO yang asli dengan yang palsu?

Dari warna dan baunya. VCO yang palsu warnanya bisa jauh lebih bening daripada yang asli, seperti air. Kalau yang asli warnanya bening tapi agak keruh. Kalau baunya, VCO yang palsu baunya tengik. Yang asli aromanya segar.
Soal ini saya punya pengalaman menarik. Pernah suatu hari saya menghadiri sebuah seminar tentang VCO. Pembicaranya dari luar negeri. Pembicara itu mengatakan bahwa VCO yang baik itu baunya memang tengik. Wah, saya kaget sekali waktu itu. Saya sangat kecewa dengan pernyataannya yang nggak benar itu.

Apakah Anda punya keinginan membagi pengalaman membuat VCO kepada orang lain?

Tentu saja, dengan senang hati. Selain melakukan penelitian, saya punya tanggung jawab berbagi ilmu kepada masyarakat, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Saya sering mengadakan pelatihan pembuatan VCO kepada masyarakat di sekitar tempat tinggal saya (Ia tinggal di Jl. Nitikan No. 8-red). Selain itu, kalau ada mahasiswa yang KKN di tempat saya, saya juga mengajari mereka.

Punya harapan untuk masa depan VCO?

Terlepas dari semua kemajuan yang telah dicapai hingga saat ini, penelitian dari berbagai disiplin ilmu masih diperlukan untuk membuktikan secara ilmiah mekanisme kerja minyak virgin pada peningkatan kesehatan tubuh. Ini penting dilakukan agar khasiat luar biasa dari minyak kelapa ini bisa memberi sumbangan solusi terhadap masalah kesehatan masyarakat.

(Di tengah kesibukannya sebagai dosen, kegiatan penelitian tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan istri General Manager PT. Astra Agro Lestari Tbk, Ir. Bambang Susetyono, ini. Beberapa makalahnya pernah disampaikan dalam seminar regional maupun nasional. Di antaranya adalah “The Effect of Se/Activated Carbon to Reduce Peroxide Content in Waste Frying Oil” yang disampaikan di Yogya tahun 2001. Ia juga pernah menghasilkan karya tulis ilmiah yang diterbitkan oleh Indonesian Journal of Chemistry tahun 2002, judulnya “Study of Thermal and Acid Stability of Bentonite Clay”-red).
(Alfata, Arya)