Wednesday, May 20, 2009

>Berlibur Bertiga

Bandara Internasional Ngurah Rai

Selasa, 28 April 2009, 22:35 WITA

“Mandala Airline dengan nomor penerbangan RI 384 dari Jogjakarta telah mendarat.” Sebuah pengumuman baru saja dilantangkan. Beberapa menit kemudian muncul dua manusia ajaib dari gerbang terminal kedatangan domestik. Masing-masing membawa sebuah tas punggung. Yang satu berjaket, yang lainnya berkaos. Keduanya clingak-clinguk seperti mencari seseorang. Dan ketika mata mereka melihatku wajah mereka jadi berseri. Mereka adalah Pongge dan Buris yang baru pertama kali menjejakkan kaki di Bali!!! Kedua kawan semasa kuliah ini sudah lama ngebet ingin ke Bali.

Dalam perjalanan ke rumahku di Badung kami melewati pantai Kuta dan jalan Legian. Jalanan lengang oleh lalu lalang kendaraan. Tapi lalu-lalang para pelancong berjalan kaki makin ramai. Mata Buris, terutama Pongge, tak henti-hentinya melototin bule-bule yang berpakaian minim bersliweran di sepanjang trotoar. Melewati beberapa diskotik yang saling behadapan beradu audio hasrat Pongge kian tak terkendali. Kepalanya bergoyang-goyang. Tangannya menari-nari. Dan, hampir saja ia melompat dari sampingku seandainya saja tak ku-central lock pintu mobil. Lagipula masih ada safety belt yang menahan tubuh Pongge. “Sabar, Pong. Saiki kan awake dhewe sih rekonais. Eksplorasi detaile suk wae,” kataku pada Pongge. “Tapi, aku wis ora tahan kie, Gen. Maklum bar metu saka alas,” jawabnya. Buris yang duduk di belakang terbahak-bahak hahaha…….

Tengah malam kami tiba di rumahku. Ngobrol-ngobrol sebentar lalu kami beranjak tidur. Usai sarapan, kami menuju ke pantai Sanur yang sepi. Sebelumnya kami singgah ke toko kamera.”Lha, piye tho cah iki arep plesir ora nggowo Kimera,” gerutu Pongge. Setelah memilih dan membayar. Eh…yang bayar Buris. Jadi kamera itu kepunyaan Buris lho. Padahal Pongge juga pengen beli kamera yang canggih. “Wis ta cepake duit sa-tas kie saka Kalimantan,” kata Pongge ndagel.

Di seberang pantai Sanur tampak pulau Nusa Lembongan yang masih alami. Seandainya kami punya cukup waktu ingin aku mengajak mereka ke sana sekaligus ke rumah istriku. Cuma menghabiskan segelas minuman kami berlanjut ke GWK di Jimbaran.

Cuaca cukup terik tapi tak seterik langit Kalimantan. Langit tampak indah dengan warnanya. Angin semilir dengan genit mencolek-colek kulit kami yang memang tidak terawat. Ngetes kamera baru. Jepret sana jepret sini berlatar belakang patung Dewa Wisnu setengah jadi. Jepret lagi berlatar perbukitan kapur yang sudah dikeruk. “Kayaknya aku mo bikin mineplan kayak gini aja dech biar seru hehehe,” Buris nyletuk.

Siang menjelang sore kami balik ke rumah. Kebetulan ada tetangga yang meninggal dan sore itu akan diadain upacara ngaben. Pongge dan Buris pengen ngeliat acara itu. Tapi sayang keinginan mereka harus tertunda. Kami terlambat datang!

Abis mandi kami Kanjut beredar ke pantai Kuta menikmati sunset. Padahal sebenarnya pengen liat bule-bule berjemur hehehe…..Yach, udah sunset pasti ga ada bule yang “action”. Jepret-jepret lagi. Kami jalan-jalan menyusuri pantai dan trotoar. Matahari sudah sembunyi. Kami segera meluncur ke resto Jimbaran buat dinner. Berhubung sudah lama aku nggak ke sana, kami sempat kesasar. Tapi setelah tanya sana-sini sampai juga di tujuan. Gile bener…..parkiran penuh. Kami memilih meja tepat di bibir pantai. Kalau ngeliat daftae menu malah bikin pusing. Akhirnya kami langsung ke dapur. Bisa langsung pilih seafood segar. Setelah tunjuk sana tunjuk sini akhirnya 700gr kakap merah dan 400 gram udang menjadi santapan malam kami. Perut dah keburu keroncongan tapi pesanan kami belum datang juga. Untungnya welcome drink dan camilan kacang cukup menjadi penghibur kami ngobrol ngalor-ngidul. Akhirnya yang ditunggu datang juga. Si kakap dan si udang udah tergolek seksi menanti kami mencumbunya. Wajah-wajah kelaparan kami melutuhlantakkan jiwa raga mereka hahaha…..ditemani sebakul nasi putih hangat, sayur plecing, es jeruk, dan desert. Waduh Pongge nambah ampe 3x. Doyan po busung lapar kie?

Wis wareg. Kami beredar ke Legian. Ngeliat monument bom bali dan daftar korbannya. Jepret lagi dech. Kami berjalan kaki menyusuri trotoar dan gang-gang. Nonton tarian bola di depan pintu masuk sebuah diskotik dan tengah malam kami pulang.

Paginya kami beredar lagi ke sebuah toko suevenir di Denpasar. Kira-kira 30 menit perjalanan. Pongge dan Buris mengikutiku dengan sepeda motor. Sampai di toko Pongge sibuk memilih baju pantai. Buris melihat-lihat kaos. Dan aku mencari minuman brem dan brem batangan. Usai membayar kami berpisah. Karena sore itu aku harus ke Semarang naik bus malam yang kebetulan jalurnya lewat depan rumahku. Sedangkan Pongge dan Buris masih beredar menikmati Bali sampai dua hari kemudian.

Tuesday, April 28, 2009

>Undangan Resepsi Perkawinan

Undangan yang kedua ini bukanlah undangan perkawinanku yang kedua.....Pun seandainya demikian aku berharap Aura Kasih bersedia menjadi si mempelai putri hehehe.....

Dengan segala kerendahan hati kami mengundang rekan-rekan terhormat dalam acara resepsi perkawinan kami:

Egytha Chandra Dewi Sudana (Egy)
Putri tercantik dari I Made Sudana dan Tri Budi Kusriyanis

dengan

I Gusti Ngurah Arya Wijaya (Igen)
Putra terganteng dari I Gusti Made Sudana Yoga dan Ayu Kadarsih

yang akan diselenggarakan pada:
Sabtu, 9 Mei 2009
Jam 11.00 - 13.00 WIB
Bertempat di Aula USM Kampus III, Jl. (Arteri) Soekarno Hatta Semarang

Doa restu yang tulus dari rekan-rekan semua sungguh suatu kebahagiaan yang tak terkira bagi kami

Salam hangat

Egy & Igen

Thursday, April 9, 2009

>Parpol dan Caleg Pilihanku


Hari ini adalah hari bersejarah bagi pendidikan demokrasi rakyat di negeri ini. Di negeri di mana Islam, modernitas, dan demokrasi bisa berpelukan dengan mesra. Semua mata dunia tertuju pada hajatan besar ini. Segala hipotesis, keraguan, harapan, kecemasan, dan sebagainya akan menemukan jawabannya tak lama lagi.

Tapi sayang sekali, tahun ini aku tak bisa menikmati hajatan besar ini. Bukannya aku tak menghormati kerja KPU yang telah bersusah payah bekerja. Bukan pula aku hendak memboikot pemilu ini. Lantas? Partai dan caleg pilihanku ternyata tak tercantum pada lembar kertas suara.

Partai pilihanku adalah PAKSS (Partai Aura Kasih So Sexy) dengan nomor urut 69 dan caleg nomor 38B!

Saturday, March 14, 2009

>Workshop Pengembangan Jasa Hulu


Perusahaan tempatku bekerja selama ini dikenal sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa inspeksi, supervisi, pengujian, dan pengkajian (ISPP). Banyak bidang jasa yang ditangani, tetapi aku berada dalam lingkup jasa mineral khususnya batubara. Jasa analisis kualitas batubara (middle stream) dan survey muatan (kuantiti) batubara dalam ponton/ kapal (down stream) adalah kegiatan inti yang mendatangkan banyak keuntungan bagi perusahaan.

Lha upstream-nya mana? Dua tahun lalu aku direkrut untuk melebarkan sayap bisnis di bidang jasa hulu pertambangan (upstream). Selama ini pekerjaan jasa hulu hanya dilakukan sambil lalu dan kurang tergarap serius. Nah, pada workshop kali ini diharapkan lahir kajian strategis untuk menggarap jasa hulu.

Tiga belas orang yang berlatar belakang geologi, pertambangan, dan kimia berkumpul di Hotel Inna Garuda, 9-13 Februari 2009. Kami datang dari beberapa wilayah kerja. Padang. Pekanbaru. Jambi. Jakarta. Surabaya. Banjarmasin. Batulicin. Sangatta. Tarakan. Timika. Acara ini juga dihadiri top manajemen kantor pusat.

Usai jam kerja aku dan teman-teman selalu menyempatkan diri menikmati suasana Jogja. Tinggal melangkah beberapa meter saja di depan hotel pusat keramaian Jogja Malioboro sudah bisa dinikmati. Main tutup mata di alkid. Ngangkring di tugu. Dan hari terakhir jalan-jalan ke Merapi, nengok Mbah Maridjan. Sayang di hari terakhir aku nggak ikut. Aku lebih memilih berangkat ke Semarang. Istriku sudah menanti di sana. Maklum pengantin baru hehehe……

Saturday, January 10, 2009

>Mak, Aku Kawin!


Aku mengawini seorang gadis yang telah setia menemaniku selama 88 bulan. Lamaran 13 Januari 2009. Upacara di rumah calon istriku di Nusa Lembongan 15 Januari 2009. Dan upacara di rumahku 23 Januari 2009. Resepsi bakal digelar di Semarang pada bulan April 2009.

>tunon taka


Usai bekerja seharian blusukan ning alas aku suka menghabiskan sore di tempat ini. Suasana senja dengan hamparan sungai yang lebar dan tiupan angin yang mengasyikkan menjadi obat mujarab buat melepas stres dan kejenuhan. Sesekali ada speedboat dan ketinting yang lalu lalang. membuat gelombang di permukaan sungai sehingga membuat pangkalan yang terbuat dari kayu ulin ini bergoyang. Pangkalan ini namanya Tunon Taka. Dalam bahasa Tidung (salah satu suku asli Kalimantan) tunon berarti pelabuhan dan taka berarti kita. Tunon Taka berarti pelabuhan.

Friday, December 5, 2008

>Imaji "Laskar Pelangi"


Akhirnya jadi juga aku nonton film “Laskar Pelangi”. Pas cuti kemarin. Penuh perjuangan dan sedikit kekonyolan. Gini dongengannya. Dari Tarakan, Kaltim, jam 4 Wita aku terbang menuju Balikpapan. Transit satu jam lalu lanjut ke Surabaya. Transit satu jam buat menuju Denpasar. Alhasil jam 22.30 WITA baru sampe bandara Ngurah Rai. Kedua orangtuaku dan kekasihku dah menanti kehadiranku….Seandainya ada penerbangan langsung Tarakan-Denpasar tentu tak sampai dua jam aku sudah mendarat di Bali. Fiuh!!!

Suatu hari usai jalan-jalan ke GWK aku mengajak pacarku nonton “Laskar Pelangi” di Galeria Mall. Baru kali pertama aku menginjakkan kaki di sana. Halaman parkirnya sangat luas kukira. Gedungnya cuma dua lantai. Yang membuatku terkesan adalah desainnya yang sangat tropis. Atapnya rendah. Dinding-dindingnya terbuka sehingga sinar matahari dan angina sepoi bisa masuk bebas. Banyak tempat duduk buat kongkow-kongkow di taman. Ada gemericik air mancur pula. Ah.....segarnya.....

Segera saja aku menuju gedung bioskop yang terpisah dari bangunan induk mall. Tampak sepi. Hanya sedikit orang yang duduk. Segera saja aku menuju loket. Ah, celaka. Ternyata tiket telah habis buat semua jam pertunjukkan hari itu! Sedih dech.

Tak bisa aku nonton di Bali akhirnya aku nonton di Semarang. Gila, kan? Ah, ga juga. Lha wong aku nemenin pacarku pulang ke rumah ortunya. Minggu, 8 November 2008 aku ngajak kekasihku nonton di sebuah bisokop di kawasan Simpang Lima. Ah...lama sekali aku tak merasakan momen berduaan seperti itu.

Kami tiba jam 13.05. Antrian sudah panjang. Sepuluh meter. Jam pertunjukkan 14.00. baru saja satu meter melangkah dari antrian. “Tiket Laskar Pelangi jam setengah dua sudah habis,” kata seorang petugas. Biarlah. Masih ada jam berikutnya. Tak sampai 15 menit aku sudah mendapatkan dua lembar tiket untuk pertunjukkan jam 16.00. Sambil menunggu jam pemutaran aku dan kekasihku menikmati waktu jalan-jalan. Lalu kami menuju food court di lantai 1. Pesan minuman dan ngobrol.

Tak terasa jam pertunjukkan hampir tiba. Segera saja aku lihat kembali lembaran tiket itu. “Quantum of Solace jam 15.30”. Film James Bond terbaru. Celaka! Aku salah beli tiket! Segera saja aku berlari menuju loket di lantai dua. Aku hendak komplain. Tapi di loket itu tertulis “Tiket yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan”. Apes. Jelas aku sangat jengkel dengan ketololanku. Kekasihku dengan sabar menenangkanku. Bagaimanapun juga aku harus nonton hari itu. Akhirnya aku kembali antri untuk mendapatkan tiket pertunjukan jam 23.00! Dua lembar tiket yang telanjur dibeli tadi kuberikan kepada Wima, adik kekasihku. Kebetulan Wima ngebet banget pengen nonton “Quantum of Solace”. Dia nonton bareng pacarnya. Harga tiket per lembarnya Rp.20.000,00. Tiket pesawat Tarakan-Denpasar Rp. 1.146.000,00. Air port tax Rp. 20.000,00. Tiket bus eksekutif Denpasar-Semarang Rp. 250.000,00. Total jenderal Rp. Rp. 1.436.000,00 biaya untuk nonton "Laskar Pelangi"!

Semenjak kelar membaca novelnya setahun lalu aku membayangkan kalau novel itu difilmkan. Kayak apa ya jadinya? Tapi biasanya film yg diambil dari novel/ buku tak semenarik bukunya. Lihat aja: “Ayat-ayat Cinta”, “The Da Vinci Code”, “Harry Potter”, “Lupus”, “Gie”, atau “Cintaku di Kampus Biru”. Betul juga. Selama nonton “Laskar Pelangi” tak kudapati daya magis imaji yang kureguk ketika membaca novelnya. Barangkali sebuah cerita akan menjadi jauh lebih menarik bila terendapkan dalam imaji pembacanya. Rangkaian gambar bergerak dan tata suara tak mampu mengalahkan imaji yang berloncatan dalam novelnya. Bisa jadi karena itulah umat Islam tak membolehkan Nabi Muhammad digambarkan rupanya, apalagi difilmkan. Agar imaji kehebatan dan kesalehan Nabi Muhammad tetap terjaga indah dalam memori umatnya.



Terima kasih Andrea Hirata dan Riri Reza yang telah memberikan kisah inspiratif buat anak negeri.