Monday, May 12, 2008

>Kawan-kawanku di Hutan



Dalam kesunyian hutan Simenggaris, Nunukan, Kaltim, ada kawan yang setia menemaiku. Menjadi tempat bertukar pikiran dan bersandar dari kegelisahan hidup. Kawanku itu berupa buku dan VCD/ DVD berbagai tema.


Buku: 1) enam buku humor (tiga karya Raditya “Kambingjantan” Dika, dua karya Kelik Pelipurlara, dan “Narsis Heroes” yang menyebalkan; 2) dua buku kisah petualangan Karl May (“Dan Damai di Bumi!” dan Winnetou II); 3) satu novel sejarah (“Gajah Mada: Hamukti Palapa”); 4) empat buku motivasi dan inspirasi (“Hidup Bukan Hanya Urusan Perut”, “K!ck Andy: Kumpulan Kisah Inspiratif”, “Quantum Ikhlas”, dan “The 7 Habits of Highly Effective People”); 5) tiga buku Geologi (dua buku Field Geology, satu buku tentang mineral logam karya Prof. Sukandarrumidi); 6) English Grammar karya Betty Schrampfer Azar; 7) satu kumpulan puisi “Angin pun Berbisik” karya sebuah keluarga tunanetra; 8) dua buku religi (“Tuhan Upanishad: Menyelamatkan Masa Depan Manusia” dan “Spiritualitas Hindu untuk Orang Modern”); 9) tujuh majalah (tiga “National Geographic Indonesia”, dua “Tempo”, satu “Intisari”, dan satu “MIX”).

Film: 1) jenis komedi (“Bean: Movie Collection 3”, “Asterix at The Olimpic Games”, dan “American Pie 6”; 2) jenis laga (“Spectacular War (7 in 1)”, “Totally Entertaining (7 in 1)”, “Jumper”, “American Gangster”, “Blood Diamond”, “Mongol”, 3) jenis drama (“Apocalypto” dan “Conversaton with God”), dan 4) jenis dewasa (Maria Ozawa, Asia Carera, Naughty America, Bangbros, dan lain-lain yang kupelihara dalam hardisk laptopku hehehe……)

Ingin rasanya aku membawa lebih banyak buku lagi untuk menemani hari-hariku, untuk membunuh kebosanan. Tapi aku bukan Soekarno pun Hatta yang membawa berpeti-peti buku ketika mereka diasingkan dari satu tempat ke tempat lain di Nusantara ini. Bukan pula aku Sir Thomas Stamford Raffles yang membawa 30 ton literature tentang Nusantara ke negerinya yang lalu menerbitkannya sebagai buku berjudul “The History of Java”. Tapi setidaknya buku itu bisa menjadi penghiburku dan 15 kru driller yang bekerja bersamaku. Di sebuah sudut camp kudapati seorang driller sedang tertawa terbahak-bahak. Tangan kirinya memegang perutnya yang kesakitan menahan tawa. Sedangkan di tangan kanannya buku plesetan karya Kelik Pelipurlara masih erat dipegangnya. Di sudut yang lain ada kru driller yang sedang berekpresi sambil melantunkan puisi.

Camp Simenggaris, Malindo (Malaysia-Indonesia)

1 comment:

mitha_jeep said...

salam buat bli igen yg lagi berguru am prabu angling dharma..
hehehehe...

cuma mau nanya..
ap perbedaan hidup d pedalaman hutan rimba am hidup d pedalaman hutan beton??
hehehe...

thx b4..

peace..

kind regards,
amrita
(orng Bali yg lg mnuntut ilmu d UGM,klo mau liat fs saia d mizz_jeep@yahoo.com)