Monday, November 30, 2009

>AAGABAN

>AAGABAN

Friday, October 9, 2009

>Aku Traveling Maka Aku Ada



Kata orang jurnalis dan diplomat adalah jenis pekerjaan yang menjanjikan perjalanan ke pelosok negeri dan manca. Apa iya sih? Anggapan itu barangkali ada benarnya. Dulu sih! Namun, seiring waktu, sekarang hampir semua jenis pekerjaan memungkinkan kita untuk meninggalkan meja kantor berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Coba tengok cerita Mbak Trinity di naked-traveler.com atau versi bukunya “The Naked Traveler”. Si Mbak yang mengaku cuma pegawai kantoran biasa sudah bisa traveling ke berbagai belahan dunia. Obsesi Agustinus Wibowo berkeliling dunia punya kisah menarik yang rutin ditulisnya untuk rubrik travel story di KOMPAS .COM. Padahal ia cuma seorang mahasiswa asal Lamongan yang sedang kuliah di Cina.

Petualangan Andrea Hirata sebagai backpacker berkeliling Eropa dan Afrika dikisahkan secara dramatis dalam “Edensor”. Atau yang lebih seru nan kocak kisah si Lintang yang cantik dengan keempat sahabatnya (Gery, Wicak, Daus, dan Banjar) dalam novel “Negeri van Oranje” berkelana menyusuri berbagai kota di Belanda sembari menyelesaikan studi master.

Awalnya, aktifitas jalan-jalan dianggap orang sebagai kegiatan yang membuang waktu dan biaya. Nyatanya kegiatan memanfaatkan waktu luang telah berubah menjadi bisnis yang menggiurkan. Berbagai media cetak bernuansa jalan-jalan marak menjadi panduan kita bepergian. Taruhlah majalah National Geographic Traveler Indonesia, Kabare, dan Jalan-jalan. Buku “Lonely Planet” lengkap menyajikan pernak-pernak wisata a la backpacker. Belum lagi laman-laman di internet yang menyajikan informasi dan biaya traveling. Biro perjalanan dan hotel turut kebanjiran rejeki.

Berpesiar tanpa jeprat-jepret pastinya nggak afdol. Makin majunya teknologi digital memudahkan kita untuk memajang foto narsis kita di facebook, twitter, YM, maupun Friendster. Kalau nggak punya (atau nggak ada yang mau minjemin) kamera jenis SLR maka kamera saku juga nggak masalah. Kalau nggak ada juga kita masih bisa pakai kamera ponsel. Kalau masih nggak ada, panggil aja tukang foto keliling!

Kalau belum bisa jalan-jalan betulan cukuplah kita tengok tayangan di televisi. Di sana disajikan secara visual betapa nikmatnya melakukan perjalanan. Semuanya bisa disimak dalam “Jejak Petualang”, “Koper dan Ransel”, “Backpacker”, dan “Archipelago“. Nuansa petualangan dan adu cepat bisa kita tonton di “Amazing Race”. Dan yang paling popular adalah “Wisata Kuliner”. Jalan-jalan sambil makan-makan. Dibayar pula. Duh enaknya jadi Pak Bondan.

Kalau mau lebih bebas kita cukup duduk di depan computer. Sambungkan ke internet. Berselancarlah. Apalagi ada Om Google Earth. Tambah sip. Tapi senikmat apapun itu, bepergian secara fisik jauh lebih menyenangkan dan mengesankan.

Karena itu tak salah jika Karl May yang mengarang novel petualangan seri “Winnetou” dan seri “Kara Ben Nemsi” lebih dari seratus tahun lalu mampu menghipnotis jutaan orang di dunia menjadi pelancong.

Kalau aku sih, karena pekerjaan, hanya bisa berjalan-jalan di hutan mengendus batubara bagai anjing pelacak. Nasib geologist!

>Istriku Sekolah lagi

Batas akhir registrasi 21 Agustus 2009. Tapi hingga H-4 surat pemberitahuan belum diterima istriku. Katanya surat itu akan dikirim pihak universitas ke rumah di Semarang via pos ke. Ia juga melihat pengumuman di internet. Nihil.Ia juga sudah menyanyakan hal itu ke pihak jurusan via telepon. Malah ia disuruh bersabar. “Suratnya pasti datang,” kata pihak jurusan. Istriku cemas. Gelisah. “Keterima ga ya?” tanyanya.

Akhirnya, aku berinisiatif mendatangi kampus. Hari itu juga aku meluncur ke Jogja. Kebetulan juga ada acara kumpul bareng temen-temen masa kuliah. Esoknya aku mendatangi kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Sial. Aku tiba pas jam istirahat. Aku duduk menunggu. Mataku memerhatikan mahasiswa baru yang sedang menjalani OSPEK. Aku tersenyum mengenang kejadian serupa sepuluh tahun lalu di Unibraw dan sembilan tahun lalu di Kampus Biru.

Di sebelahku duduk dua perempuan. Keduanya dari Surabaya. Mereka punya maksud yang sama denganku. Pun dengan keluhan yang sama. “Administrasi yang tidak profesional,” kata mereka. Sehari sebelumnya mereka menelpon pihak jurusan dan memastikan bahwa mereka diterima. Tak lama kemudian pintu ruang administrasi akademik terbuka. Aku disambut seorang pegawai pria. Lalu kuutarakan maksudku.

“Namanya siapa, Mas?” tanyanya.

“Bukan saya. Tapi istri saya,” jawabku sembari menyebutkan nama lengkap istriku dan jurusan yang akan ditempuhnya.

“Lingustik.”

Ia mengambil sebuah map. Lalu memeriksanya.

“Kok nggak ada, Mas” ujarnya.

Aduh. Aku tak berharap jawaban itu yang kudengar.

“Salah jurusan kali,” katanya.

Aku memutar memori. “Oh, ya sori, Pak. Jurusan Sastra”

“Lha, ini baru ada. Selamat istri anda diterima sebagai calon mahasiswa pascasarjana UGM,” ujarnya.

Lalu ia memaparkan tahap registrasi selanjutnya. Sejurus kemudian aku berjalan menuju kantor bidang akademik di rektorat. Kira-kira seratus meter dari FIB.

Sampai di sana sudah banyak orang yang sibuk mengisi berkas. Aku dilayani seorang bapak. Kusebutkan nama istriku dan jurusannya. Tak lama kemudian surat resmi pemberitahuan bahwa istriku diterima sudah ada di tanganku. Kubaca seksama. Lalu kutelpon istriku.

“Gimana, Cin?” tanya istriku di seberang telepon.

“Hmmm….kayaknya ada masalah, Babe,” jawabku dengan nada pura-pura serius.

“Lho emangnya kenapa?”

“Iya, Adik harus segera ke Jogja buat bayar SPP,” kataku sambil tertawa.

Back to my alma máter,” balasnya.

Ah…sejak lulus dari S1 Satra Jepang tiga tahun lalu akhirnya istriku sekolah lagi dengan beasiswa dari suamitercinta@foundation.org!

Sunday, September 27, 2009

>Merantau, Mudik, dan Wong Ndeso




Idul Fitri adalah hari raya umat Islam, tapi libur Lebaran adalah hari raya seluruh rakyat Indonesia. Demikian status facebook seorang kawan. Setiap tahun puluhan juta manusia urban berbondong-bondong dari kota-kota besar, terutama Jakarta, pulang ke kampung halaman masing-masing dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.

Kalau yang berombongan ada yang naik mobil pribadi (tetangga) ataupun carteran. Yang berduit (atau dipaksain punya duit) tentu terbang naik pesawat. Pastinya yang merelakan bokongnya panas karena duduk beberapa jam naik bus jumlahnya lebik banyak. Kalau yang modal nekat seraya bergaya a la Rossi bolehlah naik sepeda motor. Ga peduli belum lunas kreditannya!

Kalau mau ngerasain sensasi mudik dengan full facility layaknya “hotel bintang seribu” kereta api patutlah dirujuk. Lho kok? Kita bisa belanja apa aja tanpa harus keluar gerbong. Semua kebutuhan mulut, perut sampai di bawah perut lengkap tersedia. Hiburan dari para pengamen jalanan tak kalah asyik dari lagu-lagu di iPod atau MP4. Kalau anda “beruntung” anda akan mendapat pahala yang berlipat ganda karena telah menyumbang dengan terpaksa dompet, perhiasan, HP, ataupun barang berharga lainnya kepada “si tangan kreatif”.

Kalau pengen ngerasain sensasi a la Popeye anda bisa naik kapal laut. Tapi kalau ingin petualangan lebih seru bin dahsyat anda bisa coba naik becak. Syukur-syukur becak pribadi. Gubrak!!! Pasti gempor tuh dengkulnya si abang becak hehehe….Seenak apapun naik kendaraan itu tentunya para pembaca pasti mengamini kalau yang paling enak adalah naik gaji. Tul ga?

Mereka berharap bisa berkumpul dengan sanak saudara (bukan dengan kebo lho) untuk merayakan hari yang fitri. Bermaaf-maafan dan menjalin silaturahmi. (Iya saya maafin. Angpaonya via bank aja yach. Your bank account, please. Uhhh…maunya….).

Di kampung asal mereka membuktikan diri telah jadi “orang sukses” di ibukota dengan dandanan, gadget, dan dongengan heboh. Kalau dikumpulin dan dijadiin buku bisa jadi

"Cerita dari Jakarta”-nya Mbah Pram kalah telak.

Merantau ke ibukota telah jadi ikon dan cerita manusia udik Indonesia. Beragam lagu, novel dan film menjadi saksinya. Film-film jadul macam Warkop, atau Project-P, atau yang terbaru “Merantau” berkisah tentang manusia-manusia perantau dengan berbagai sudut.

Nun jauh di abad-abad silam nenek moyang kita juga merantau untuk mempertahankan hidup. Para pendahulu di Nusantara ini telah berlayar hinggá Madagaskar dan África. Kabarnya asal-muasal manusia berasal dari Afrika Timur kurang lebih 200.000 tahun yang lalu. Lalu mereka bermigrasi pambil singgah di Amerika Selatan (15.000 tahun lalu). Amerika Utara (15.000 tahun lalu, Siberia (30.000 tahun lalu), Eropa (20.000 tahun lalu), Timur Tengah (50.000 tahun lalu), Asia Timur (30.000 tahun lalu), Australia (50.000 tahun lalu), dan Asia Tenggara (50.000 tahun lalu). Coba deh cek májala NGI edisi September 2009 siapa tahu aku salah ngitung! Nggak kebayang deh nenek moyang kita mudiknya naik onta, jerapah, kuda, gajah, rajawali!

Manusia dan kebudayaan Indonesia adalah hasil perpaduan kebudayaan dunia: India, Cina, Arab, dan Eropa. Ini dicatat rapi oleh Dennys Lombard dalam "Nusa Jawa Silang Budaya Jilid I-III".

Jadi kalau dalam perjalanan mudik anda ditanya, “Aslinya mana, Mas, Mbak?” Lantas apa jawaban Anda? Kalau saya sih asli keturunan Homo gantengicuserectusterus!.

Hutan Sebakis, Nunukan, Kaltim

Monday, August 31, 2009

>Ini Tarian Kami


Sore itu bersama istri tercinta aku sedang duduk santai menikmati sore di depan Benteng Vredeburg. Eh, tiba-tiba muncul serombongan cewek Bali berpakaian adat ringan berkendara sepeda motor berplat DK. “Ada apa ini, Dik?” tanyaku pada istriku. “Entahlah...mmmm...barangkali berkaitan ma tari pendet, Cin,” jawab istriku. Dan dugaan istrku tampak tak keliru. Sejurus kemudian muncul serombongan yang lain, baik cowok maupun cewek mulai bergerombol di trotoar di ujung Malioboro. “Aha...yuk kita ke sana, Dik.”

Monday, July 20, 2009

>Bertemu Kawan di Hulu Mahakam



15 Juni 2009. Jam 13.10 Wita aku bersama dua bosku berkumpul dengan klien di sebuah hotel di Samarinda. Klien ini ádalah Adam Suherman bersaudara (ex owner Adam Air). Mereka bermaksud membuka tambang batubara di wilayah Melak, Kutai Barat.


Recananya kami berangkat naik pesawat berbadan kecil yang memakan waktu 45 menit. Senang rasanya membayangkan tak perlu berjam-jam menempuh jalan darat ke Melak seperti dulu. Ups. Aku terlalu dini berkesimpulan. Sial. Ternyata penerbangan hari itu cuma menyisakan lima tempat duduk. Alhasil, dengan pasrah aku akan menjalani perjalanan yang lama dan membosankan dari Samarinda melewati Tenggarong lalu Melak. Kunjungan kali ini berbeda dengan 1,5 tahun yang lalu. Kalau dulu aku melakukan pemetaan batubara 18.000 ha selama satu bulan, sekarang cuma menemani bos jalan-jalan hehehe….

Untungnya jalan raya sudah teraspal penuh meski di beberapa titik masih berlubang. Jadinya aku bisa terbang ke alam mimpi dengan sukses. Sekira jam 23.00 kami tiba di Melak. Menginap di sebua hotel. Esok paginya kami masih harus melanjutkan perjalanan darat kira-kira satu jam ke pelabuhan Sungai Mahakam. Dari situ perjalanan menyusuri hulu Mahakam dimulai hinggá 1,5 jam kemudian. Lalu dilanjutkan menuju camp yang butuh waktu 1 jam dengan kondisi jalan tanah yang berbukit. Fiuh capek!!!

Hari sudah gelap ketika kami tiba di camp. Lantas kami berkenalan dengan orang-orang di camp itu. Lebih dari 50 orang pekerja tinggal di camp. Mulai dari kepala teknik tambang, geologist, mine engineer hingga operator. Samar-samar aku pernah melihat sosok orang di sana.

Sambil berjabat tangan kusebutkan namaku, “Arya.”

“Agus,” jawabnya.

“Apa kita pernah ketemu sebelumnya?” tanyaku.

“Geologi UGM yo?” jawabnya.

Wah, ternyata kawan satu seperguruan tapi beda angkatan. Dia angkatan’99 sedangkan aku angkatan’00. Kamipun tertawa….Dasar dunia memang sempit bagi geologist macam kami. Di pedalaman Kalimantan bisa berjumpa kawan lama. Aku juga sering berjumpa tak sengaja dengan kawan-kawan seprofesi ketika plesir ke Samarinda ataupun di bandara Sepinggan Balikpapan.

Pekerjaanku di sana bisa dipersingkat menjadi satu hari pengambilan channel sampling. Besoknya kami kembali menempuh perjalanan panjang nan melelahkan kembali ke Samarinda. Lelah tapi dibayar dengan “amplop” yang isinya bisa membuat istriku girang bukan kepalang.