Monday, June 11, 2007

>gw lengser







Saat itu gw menuliskannya dgn perasaan gundah. Ada beban yg ingin segera kulepaskan.........di sini kedewasaan gw dipertaruhkan


Kepada Rekan-rekan Suara Anandam yang kubanggakan

Om swastyastu,

Jika anda takut mengalami kegagalan maka janganlah berbuat apa-apa dan jangan pula menjadi siapa-siapa.

Kita lahir, kemudian tumbuh hingga mencapai bentuk sekarang ini memerlukan sebuah perjalanan panjang. Perjalanan yang telah mengorbankan banyak waktu, tenaga, biaya, energi, airmata, keringat bahkan barangkali juga tetesan darah. Perjalanan untuk mencari identitas telah membuat seseorang mengalami proses yang seringkali di luar kehendaknya. Proses yang seringkali membuat sang pelaku menelan pil pahit kekecewaan bahkan mungkin pula hujatan.
Dunia yang begitu ramai ini telah memberi kita begitu banyak pilihan hidup. Pilihan untuk menjalani karma kehidupan ini. Siapapun tentu ingin memilih perjalanan yang mulus tanpa halangan, bak melaju di jalan tol. Tapi apa daya, manusia hanya mampu berharap, toh harus tunduk pula pada hukum karma.
Suara Anandam telah memberi begitu banyak ruang bagi kita untuk berproses, belajar tanpa perlu diukur tingkat keberhasilannya dengan deretan angka 7, 8, 9, 10 atau A, B, C, D, E. Proses yang menuntut kita untuk berpikir secara terbuka, kerja keras dan bekerja dalam tim yang kompak. Berbenturan kepentingan tak pelak akan selalu mewarnai denyut nadi kehidupan organisasi. Maka, mau tak mau, harus ada pihak yang merelakan diri untuk mengalah.
Sudah sepantasnyalah, atau mungkin sudah karmanya, jika orang orang yang memiliki ide-ide besar, yang menginginkan pembaharuan harus mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan dari masyarakat sekitarnya. Tercatatlah, Socrates harus merelakan dirinya meminum racun cemara sebagai bentuk hukuman atas “kelancangannya” meracuni pikiran kaum muda, Syeikh Siti Jenar harus merelakan dirinya mati demi “manunggaling kawula lan gusti”-nya, Galileo harus mati ditemani heliosentrisnya, Gandhi yang mati berselimut ahimsanya dalam selongsong peluru, ataupun Yesus yang mati memanggul ajaran kasihnya. Diri ini bukan seperti mereka, tak ingin pula seperti mereka. Soekarno pernah berujar,”Saya kagum dengan Mahatma Gandhi, tetapi saya tidak ingin menjadi dia”.

Uhhh, entahlah. Ada sesuatu yang membuat diri ini memiliki sebuah ikatan batin yang begitu kuat terhadap SA. Kecintaan yang begitu mendalam seperti yang dituturkan Muhidin M. Dahlan dalam “Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta”. Begitu cintanya hingga tak tega hati ini untuk membiarkan para intelektual muda yang enerjik, kreatif, dan cerdas ini mati oleh sebuah kondisi yang tidak nyaman. Sebuah kondisi yang sangat tidak kondusif untuk menjadi manusia yang merdeka. Ya, manusia merdeka. Merdeka, tanpa ada tembok besar yang menghalangi loncatan-loncatan ide “nakal”. Merdeka, tanpa ada arus besar yang siap meluluhlantakkan apa saja yang ditemuinya. Merdeka, lepas dari rongrongan sang senior.
Siapapun tahu bahwa penindasan kerapkali melahirkan penderitaan. Tapi dalam penderitaan pula karya-karya besar dunia muncul. Pramoedya Ananta Toer menulis karya-karyanya yang monumental ketika ia meringkuk dalam terali besi. Mulai dari Tetralogi Pulau Buru sampai Nyanyian Sunyi Seorang Bisu. Pun Nelson Mandela mampu membebaskan bangsanya setelah melewati tahap penderitaan itu.
Ada kisah yang cukup menarik untuk menggambarkan sebuah perjuangan penuh derita tersebut. Laron Maharaja, seperti dilihat dari namanya, adalah spesies yang hebat dan unggul dari segala spesies laron. Ia mempunyai sayap lebar yang mengepak hebat tatkala terbang. Sebelum dewasa, ia dilahirkan sebagai larva (ulat) dan menjadi kepompong yang tinggal di dalam selaput. Hal yang sangat menarik mengenai selaput Laron Maharaja adalah “leher”-nya yang begitu sempit. Untuk menjadi laron, sang kepompong terpaksa keluar dari leher selaput yang sempit itu. Ketika melihat kepompong “malang” yang sedang meronta keluar dari selaput, seorang ahli sains yang “baik hati” memberi bantuan dengan menggunting dan melebarkan leher pembendung supaya “memudahkan” kepompong keluar. Tepat seperti yang diperkirakan, kepompong keluar dengan mudah tanpa banyak meronta. Tetapi, ia tidak berdaya untuk terbang bahkan sebaliknya, ia jatuh dan hanya mampu merayap-rayap di tanah. Setelah beberapa hari ia mati. Ternyata untuk membuat ia terbang, ia hanya memerlukan proses meronta dan meloloskan diri keluar dari leher kepompong. Karena melalui proses meronta dan lolos inilah benda cair dipompa masuk ke urat-urat sayap yang memungkinkan terbang apabila bebas.
Entahlah, saat ini saya merasa telah kehilangan energi, kehilangan semangat untuk bersama kalian di SA. Bukan berarti saya pengecut, bukan berarti saya egois, melainkan demi kebaikan bersama dan tentu demi kelangsungan generasi-generasi baru SA yang lebih baik. Honestly, masih banyak impian saya yang belum tersalurkan, tetapi..........ya sudahlah. Semoga impian-impian itu terwujud di masa-masa mendatang oleh generasi-generasi SA yang lebih tangguh. Sebenarnya, berat rasanya mengungkapkan ini, tetapi apa boleh buat the show must go on.
Akhirnya, dengan ketiadaan saya ini semoga SA menjadi sang laron yang mampu mengepakkan sayapnya yang indah kepada dunia. Kobarkanlah semangat Che Guevara, Soekarno, Hatta, Syahrir dan juga Tan Malaka untuk selalu berperang melawan ketidakadilan. Jangan menjadi generasi an sich yang hanya mampu menghujat, menuntut atau pula mencaci maki bapak-bapak PHDI. Pun jangan cuman bisa meledek KMHD, menuntut perubahan, menginginkan umat maju tanpa berani melakukan sesuatu hanya karena takut salah. Ubahlah ketakutan menjadi kekuatan. Ubahlah dunia dengan impian-impian. Realisasikan impian-impian kalian dalam lembaran-lembaran kertas sehingga terabadikan dalam kepala banyak orang. Kalian adalah manusia-manusia unggulan. Unggulan? Ya, begitulah. Jutaan sel sperma berbondong-bondong berebutan untuk bersatu padu dengan satu sel telur saja, itulah kalian. Sebuah kemenangan luar biasa. Jangan sia-siakan kemampuan kalian. Cintailah, ya cintailah.
Kalian mampu membuat SA lebih baik dari waktu ke waktu. Berbagilah ilmu kepada orang lain. Saya salut melihat kalian rela meluangkan waktu dan energi kalian untuk berkumpul, mengabadikan pemikiran-pemikiran dalam lembaran-lembaran kertas. Padahal, banyak pilihan lain yang jauh lebih menarik mengisi waktu selepas kuliah seperti yang dilakukan oleh rekan-rekan kalian yang lain pada umumnya, tidur, nonton tivi, main PS, baca majalah, ngerumpi atau mungkin juga pacaran misalnya.
Kalian dapat diandalkan. Percuma saja belasan tahun kalian habiskan waktu untuk sekolah, percuma saja jutaan rupiah telah kalian habiskan untuk itu, percuma saja segala prestasi yang kalian raih jika itu semua tidak mampu menggerakkan hati kalian untuk membenahi umat yang masih memerlukan dharma bakti kalian. Jangan pernah menyerah, jangan pernah berhenti menulis kalau menulis itu merupakan “toilet” yang berguna untuk mengeluarkan “sampah intelektual” dan menjadikan kalian manusia-manusia sehat. Jika dilakukan maka bersiap-siaplah untuk sakit. “Manusia boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis ia akan musnah dari sejarah dan dari manusia”. Ya, begitulah.

Jogja, jelang Tahun Baru Saka 1926
Dalam kesendirian kini kuberharap,
Selamat sewindu SA

1 comment:

Tanny said...

Lam kenal. Saya jga baca cerita laron maharaja itu di buku "Dare To Fail". W setuju banget m u...