Monday, June 11, 2007

>tengger


Media Hindu ׀ Edisi 15 ׀ Mei 2005



Umat Hindu-Tengger Menatap Zaman


Matahari baru saja terbenam. Kabut mulai turun. Udara dingin perlahan-lahan menusuk tulang. Jalanan di lereng-lereng bukit tertutup gelap malam. Di antara lereng-lereng perbukitan Tengger itu, lamat-lamat terdengar lantunan kidung. Pekikan seorang bocah laki-laki, melalui pengeras suara, terpancar luas menyisir sudut-sudut perkampungan yang sunyi.


Sugeng sak rawue kanjuk poro tamu
Katur panganjali Om Swastyastu
Protamu-protamu sedoyo ingkang pinuju
Mugi Sang Hyang Widhi paringono sing nugroho


Terjemahan bebasnya kurang lebih demikian: selamat datang para tamu/ kami ucapkan Om Swastyastu/ para tamu sekalian yang datang/ semoga Sang Hyang Widhi memberikan waranugraha

Suara itu berasal dari sebuah pura di persimpangan jalan di Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Ngadas adalah salah satu dari enam desa di Sukapura yang dihuni umat Hindu-Tengger. Masyarakat Tengger biasa menyebut tempat ibadahnya sebagai langgar pamujan. Di dalamnya telah berkumpul 20-an anak usia sekolah dasar. Tampak keceriaan terpancar dari wajah lugu mereka. Mereka melantunkan kidung-kidung silih berganti. Bergantian mereka menyodorkan mikrofon pada bibirnya yang mungil. Sejurus kemudian persembahyangan dimulai. Anak-anak bersila dan bersimpuh, rapi. Satu di antara mereka, Leni, memimpin persembahyangan.

Di tempat lain, tak jauh dari tempat Leni dan kawan-kawannya menyerukan keagungan Hyang Widhi, sekelompok pemuda juga melakukan hal yang sama. Setiap sore, sesudah meladang, generasi muda Hindu-Tengger itu bersembahyang bersama, berucap syukur guna mempererat sradha dan bhakti. Tapi sayang, ketaatan bersembahyang generasi muda ini tak diikuti oleh generasi yang lebih tua.

“Biasanya bapak-bapak dan ibu-ibu sembahyang ke pura kalau hari raya saja. Misalnya saat Galungan, pasti ramai,” papar Ngarsoko, salah seorang pemuda. “Kami belajar kidung setiap hari minggu. Bapak dari parisada yang mengajarkan,” terangnya.

Pembinaan Agama Kurang
Dalam satu tahun, umat Hindu-Tengger melakukan enam kali pujan (ritual) besar yaitu pujan Karo, Kapat, Kapitu, Kawolu, Kasanga, dan Kasada. Pujan dipimpin oleh seseorang yang dituakan. Dukun, demikian orang Tengger biasa menyebutnya. Dukun di sini berbeda pengertiannya dengan pendapat umum masyarakat, yang mengidentikkan dukun dengan klenik atau ilmu hitam.

Dukun, bagi orang Tengger, adalah segalanya. Tanpa kehadirannya, doa menjadi kurang afdol. Tidak sembarangan orang boleh menjadi dukun. Syaratnya berat. Diperlukan kesiapan lahir dan batin.

Seiring dengan bergulirnya waktu, tugas dukun kian berat. Tak hanya soal menghafal berbagai mantra, pengetahuan agama pun mutlak dipahami. Suyitno, dukun yang tinggal di desa Jetak, mengeluhkan kurangnya pembinaan agama, “Kami sangat membutuhkan buku-buku agama, terutama buku anak-anak.”

Pendidikan agama di sekolah dinilai masih kurang. Ada tiga SD yang seluruh muridnya beragama Hindu, tetapi guru agama Hindu hanya satu. “Anak-anak sering bertanya hal-hal yang sederhana tapi sulit dijawab. Misalnya, kalau di Islam ada alhamdullillah dan ashtafirullah. Nah, kalau di Hindu harus mengucapkan apa?” keluh sang dukun.

Suyitno menuturkan bahwa pada tahun 1979 ada seorang guru agama Hindu yang merintis melakukan pembinaan agama. Cara pembinaan yang “membumi” membuat pengetahuan agama masyarakat Tengger perlahan-lahan meningkat.

Adalah Ida Bagus Ketut Suasana (47) yang dimaksud oleh Suyitno. Pak Ketut, demikian orang Tengger biasa menyapanya. “Saya masuk Tengger mulai 1 Januari 1979. Sebelumnya, agama orang Tengger adalah Buddha Tantrayana. Dalam ritualnya mereka sering mabuk-mabukan yang katanya dipercaya mampu menyatukan atmannya. Setelah saya pelajari secara seksama kok lebih dekat ke agama Hindu,” terangnya ketika dihubungi via telepon.

Melihat keadaan yang demikian, terpanggillah jiwa Suasana sebagai guru agama Hindu. Ia memberikan penyuluhan dari rumah ke rumah. Mendekati tokoh masyarakat setempat. Dan yang tak kalah pentingnya adalah mengajak orang Tengger sembahyang Tri Sandya dan belajar mekidung. Tugas beratnya tak sia-sia. Sejak kehadiran Suasana, gairah keberagamaan umat Hindu-Tengger mulai menggeliat.

“Setelah Hindu diperkenalkan, kolom agama dalam KTP orang Tengger yang semula Buddha, dengan penuh kesadaran sendiri diganti menjadi Hindu,” jelas bapak tiga anak ini. Selama sepuluh tahun ia hidup membaur dengan orang Tengger. Kemudian ia dipindahtugaskan ke Jember, hingga kini. Namun, sosok Pak Ketut telah terpatri dalam ingatan orang Tengger.

Hubungan Antarumat Beragama
Lemahnya pembinaan agama Hindu dan perekonomian orang Tengger pernah dimanfaatkan sekelompok orang dalam upaya kristenisasi. Menurut pengakuan Sugito (64) pada tahun 2001 ada seorang pendatang yang membeli rumah salah seorang umat Hindu-Tengger dan kemudian menempatinya.

Orang tersebut sering mengunjungi warga yang sakit dan menawari bantuan pengobatan gratis dengan syarat mau meninggalkan agama Hindu dan beralih menjadi Kristen.
“Ada sebelas orang yang terjerat. Setelah menjadi Kristen, mereka menjelek-jelekkan agama Hindu,” terang Sugito. Setiap Minggu, menurut pengakuan Sugito, orang-orang Kristen dari kota datang berbondong-bondong melakukan kebaktian.

“Mereka mengundang aparat desa untuk menghadiri Natal. Sebagai pengayom rakyat, tentu saja undangan itu tidak ditampik. Alangkah kagetnya, ketika di sana saya disodori buku pujian dan diajak ber-haleleuyah,” ungkap bapak tiga anak ini. Sejak kejadian itu, warga Tengger marah dan melakukan sidang desa. Kedua belas orang Kristen itu dipanggil. Hasilnya, warga menolak kehadiran mereka dan meminta mereka untuk meninggalkan desanya.

Lain cerita hubungan antara orang Tengger yang Hindu dengan orang Tengger yang Muslim. Setiap perayaan Karo orang Tengger, Hindu dan Muslim, berkumpul dan mempererat rasa persaudaraan. “Kesamaan nenek moyanglah yang menyebabkan mereka tetap rukun meskipun berbeda agama,” papar I.B. Ketut Suasana. Karo merupakan momentum yang sangat sesuai sebagai ajang mempererat rasa kekeluargaan. Pasalnya, hari raya Karo dipercaya sebagai peristiwa bertemunya Roro Anteng dan Joko Seger, nenek moyang mereka.

Namun, terbesit kekhawatiran di benak Suasana ketika guru agama Islam, yang tidak mengenal adat-istiadat orang Tengger, mengajarkan dogma agama yang dapat mengganggu hubungan baik yang telah terjalin antara umat Hindu dan Muslim.

“Keangkuhan” di Balik Pesona G. Bromo
Keindahan kawah G. Bromo telah mengundang perhatian wisatawan dari seantero jagad untuk berkunjung. Tak terkecuali umat Hindu-Bali. Mereka berbondong-bondong ber-tirta yatra, bersembahyang di pura agung Poten, di padang pasir tak jauh dari kawah G. Bromo. Seperti yang diungkapkan oleh Sukerta ketika ditemui Media Hindu di mata air suci Widodaren bersama puluhan peserta tirta yatra lainnya, “Saya datang bertujuh. Kemarin saya berangkat dari Bali. Kami melakukan tirta yatra ke Blambangan, Pura Mandala Giri Semeru dan ke Bromo ini. Setelah ini kami balik ke Bali,”.

Ia mengaku baru pertama kali ini berkunjung ke Bromo dan terpesona oleh keindahan alamnya. “Ternyata Hindu itu tidak hanya dianut orang Bali. Orang Jawa pun ada yang Hindu,” terang pria yang tinggal di Negara ini.

Orang Bali memang sering bersembahyang ke Pura Poten. Biasanya mereka datang berombongan besar. Secara ekonomi kehadiran mereka memang turut meningkatkan geliat roda perekonomian orang Tengger. Tetapi, bagaimana dampaknya terhadap perkembangan pemahaman agama orang Tengger? Ngarsoko mengatakan bahwa jarang sekali umat Hindu dari Bali yang mau bersembahyang di langgar pamujan. Apalagi berdialog tentang persoalan seputar agama. Padahal, Ngarsoko berharap dapat memperoleh tambahan pengetahuan agama dari orang-orang Bali yang datang ke Bromo. “Kami sangat membutuhkan siraman rohani agar wawasan kami soal agama menjadi luas,” harap Ngarsoko.

Harapan Ngarsoko boleh jadi mencerminkan setumpuk impian orang Tengger yang menjulang tinggi. Setinggi matahari yang bergerak condong ke ufuk barat.

Dari lereng bukit tampak iring-iringan mobil yang mengangkut orang-orang Bali bergerak “angkuh” menuruni jalanan, meninggalkan serpihan-serpihan peninggalan Majapahit ini. Tak lama berselang matahari pun mulai tenggelam, menyembunyikan wajahnya di balik bukit. Dari langgar pamujan, di kejauhan sana, terdengar seruan seorang bocah mengingatkan segenap warga untuk bersembahyang, merendahkan diri dan hati di hadapan Hyang Widhi.

Umat Hindu kabeh ngumpul nggone pura
Isuk awan sore lan purnomo
……………………………

(Umat Hindu semua mari berkumpul di pura/ pagi siang sore dan purnama)

1 comment:

red_on said...

om swastiastu...

salam kenal sodaraku di tengger kita generasi muda hindu selalu akan mendukung kalian..kita akan bangkit!!

http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/